Rabu, 10 Mei 2023

Sasmoro Dahana

Blog ini saia buat bukan karena saia ingin dibilang anak gaul, atau hanya sekedar iseng.
Saia juga sudah punya blog sebelumnya tapi namanya terlalu sulit untuk diingat.

Sasmoro Dahana
atau Asmoro Dahana
atau Asmara Dahana
adalah nyanyian cinta.

Jadi blog ini berisi lagu2 cinta,,
hahaa..
bukan bukan..
blog ini hanya coretan kata yang [kadang] bermakna.

Simak sajalah...

Senin, 28 Mei 2012

Beat Merah Sang Gatot Kaca


Dari SMA gw pengen banget punya motor. Motor apa aja asal nyaman dan aman buat dikendarain. Tujuannya sih satu, bukan buat gaya-gayaan atau pamer tunggangan. Tapi biar kalo gw kemana-mana itu gak ngandelin orang. Bahkan dulu gak kepikiran buat punya motor anyar. Cita-cita gw itu dulu bayarin 1 vespa abang gw, berharap dia lepas 3 jutaan.

Akhirnya Bapak DP-in matic Mio, buat gw sama adek gw. Tapi tetep repot, karena kadang kita butuh pake motor barengan. Karena sering ribut rebutan motor, mungkin Tuhan punya cara lain mendamaikan kami. Mio kami ilang tepat sebulan mangkrak di rumah. Demi Neptunus gw kesel banget sama adek gw lantaran dia teledor, motor kami ilang.

Sebulan kerja di ERL, gw putuskan untuk cicil beli motor. Cowok gw [waktu itu] bilang jangan dulu. Dia bersedia anter dan jemput gw. Tapi kan dari dulu gw udah bilang, mau punya motor itu biar gak ngandelin orang. Jadi gw bulatkan tekad buat beli motor.

Gw liat-liat katalog. Entah kenapa, gw langsung JATUH CINTA BANGET sama motor ini. Bukan, bukan Beat, Piaggio MP3. [ya iyalah *toyor*]. Tapi Ibu Bapak gw gak setuju. Katanya Piaggio MP3 bukan orang Jawa, jadi mereka kurang sreg, *eh bukan deng. Piaggio MP3 itu susah masuk rumah gw, pintunya cuma muat 2 orang. Jadi gw cari motor laen aja.

Satria, nonggeng naeknya. Vixion, gak nyampe. Jialing, udh gak keluar. Mio, trauma ilang lagi. Pilihan gw jatuh pada Vario atau Beat. @mellycupy punya Vario lebih dulu, @nengnidia Beat. Diem-diem gw amati. Beat lebih ramping, gw mikir yang gampang aja markirnya. Karena gw kecil dan Vario agak besar, gw putuskan untuk "nembak" Beat aja. Nah, sekarang gw bingung pilih warnanya.

Nah soal warna, Beat ada yang kuning gading, putih, pink, biru, item, dan merah. Gw suka yang Pink! Demi Neptunus! Tapi si @nengnidia udah punya, gak asik dong kalo kami kembaran. Nanti ga bisa tuker pakai. Akhirnya gw pilih #beatmerah. Dari pertama Bapak punya Suzuki GX 2 Tak sampe punya Revo anyar, semua motornya warna merah. Gw jadi ikut2an. Kata Bapak, kalo bukan item atau merah, rasanya bukan motor. *maaf @nengnidia *ngumpet :DDD

Tanpa menunda waktu, #beatmerah di katalog pindah ke rumah. Girang bukan kepalang ketika gak lama, dapet STNK berukirkan nama gw. Tapi Bapak ngingetin beliau gak akan ngasih toleransi pembayaran #beatmerah di 17 bulan ke depan, semua tanggung jawab gw.

Saking girangnya, gw iyain aja. Ambil cicilan paling pendek yang berarti bulanannya cukup mahal. Kegirangan gw berubah kecemasan. Bulan-bulan pertama punya #beatmerah adalah juga bulan2 pertama gw kerja. Gw kelimpungan ngatur keuangan. Niatnya klo udah kerja pengen punya Chanel atau LV atau sekedar blush on Oriflame harus pupus dulu *lebay*

Di bulan ke dua, gw beri nama #beatmerah dengan Gatot Kaca. Karena tulangnya memang dari besi. Gak pernah gw biarkan #beatmerah gw lecet bahkan kotor. Tahun pertama gw gak pernah percayain orang lain [bahkan] untuk cuci motor gw. I do by myself! Suka dan duka, panas dan hujan, gw lewati bersama dengan #beatmerah gw, si Gatot Kaca. Kami semakin intim.

17 bulan sudah keintiman itu kami lewati bersama. Di bulan ini dia berjanji akan menyerahkan sepenuh dirinya pada gw. Akhirnya di bulan ke-17 ini gw lunasi mahar gw. #beatmerah sepenuhnya kini jadi milik gw. Kami muhrim sekarang. MUHRIM!! Demi Neptunus juga, gak akan ada yang bisa memisahkan kami. Gw dan #beatmerah. [kecuali Piaggio LX 150] #eh. Gak, gak, boong *usap2 #beatmerah.

Jadi tadi pagi adalah ikrar sehidup gak semati gw sama #beatmerah. Disaksikan oleh Pak Iman sang pegawai dealer yang mengisi kolom cicilan ke-17. Surat-surat sedang diurus. Bukan kami gak percaya ikrar kami, tapi surat-surat memang penting. BPKB #beatmerah sebagai bukti dia milik gw yang sah. SAH!!! Semoga Tuhan selalu menjaga kemesraan kami. Gw dan #beatmerah. *diam2 gw bisikkan terimakasih karena telah setia mengantar gw kemana-mana.*



Rabu, 09 Mei 2012

Aku Segera Menikah


Sore itu kami janji bertemu disebuah pusat perbelanjaan di pinggir kota. Di bioskop yang kami sebut 21. Rencananya mau nonton film terbaru dari serial komik yang kemudian difilmkan. Aku janji tiba lebih dulu di sana, janji untuk membeli tiket buat kami berdua.

Enam puluh menit sebelum sampai di 21. Aku sibuk memilah baju apa yang ingin aku pakai: Kaos putih polos dengan rok denim. Blus dengan jeans biru tua. Cardigan pink susu dengan rok panjang broken white.
-Kaos polos abu-abu, denim overall skirt warna hitam, jeans hitam.-
Fix. Aku meluncur dengan vespa merahku. Aku hitam dan kelabu. Kau... Aku belum tau. Kita janji bertemu.

"Aku menunggumu di pintu. Di dalam kaos polos abu-abu." -draft
"FYI. Parkiran Junction penuh banget." -sent

"Dah dmn?"
"Gue di parkiran"
"Menuju situ"

"Iya lg antre tiket"
"Jam 17.45 abis. Mau yg jm 20.30?"

"Ya boleh"

"Okeh"

Pukul 16.15 aku sudah sampai di sana. Di tempat janjian kita. Sepuluh menit kemudian kau sudah tiba. Tak kusangka kau juga dalam hitam. Sudah terpuaskan rasa ingin tauku tentang baju apa yang kau pakai.

Masih dua setengah jam lagi film kita dimulai. Bingung menghabiskan waktu dimana, kita memutuskan untuk minum kopi di Black Canyon Coffee. Kau yang pilih untuk duduk di sofa depan cafe sambil menyaksikan Moto GP. Kita berbincang tentang diam. Sesekali tentang rokok, cokelat, dan sakit gigi -juga sakit hati-.

Kau bilang, orang orang yang sukses berawal dari sakit hati. "Lihat saja Adele, Mozart, Einsten..." kau berkata menggebu gebu. "van Gogh." aku menambahkan. "Betul, betul sekali."

Aku bilang, sakit gigi jauh lebih sakit ketimbang sakit hati. Karena sakit gigi tidak bisa dibagi dengan orang lain, sakit hati bisa. Kau tidak setuju. karena kau bilang sakit gigi bisa sembuh dengan Ponstan, sakit hati tidak. Kita memang selalu berselisih pendapat. Selalu begitu. Kau tau betul membuat diskusi jadi lebih hidup. Membuat obrolan jadi panjang.

Sekian jam berlalu. Tiket yang sudah ku kantongi kuserahkan di pintu masuk teater 4 agar kami diperbolehkan masuk ke ruang pemutaran film. N9 dan N8, deret depan, membuat kami sedikit dongak untuk menyaksikan film. Tak apa, aku sudah terbiasa dalam suasana tidak enak jika bersamamu.

Dua setengah jam kita habiskan untuk duduk di ruang gelap yang berpendingin. Menyuguhkan suara dan gambar bergerak. Menyiratkan kenyamanan untuk tidak mau beranjak.


Seperti biasa, seperti hari hari janji temu kita sebelumnya. Aku selalu berharap punya banyak waktu untuk lebih lama bersamamu. Membincangkan apa saja, berkomentar tentang siapa saja. Hingga pagi pun mau, bila oh denganmu. Karena ku selalu... Senang bersamamu... kira kira begitu kata Naif. -bullshit!- Jelas ini masalah hati, masalah kagum padamu yang berlebihan sampai akhirnya salah terapan.


Aku sadar betul aku salah paham tentang kita. Dan aku yakin kau pun sudah paham. Tapi aku pura pura alpa. Menganggap pertemuan pertemuan kita itu biasa saja. Aku lelah. Tapi seperti snorkling, lelah setelah bergulat dengan air laut dan ombak tidak membuatku lantas kapok untuk nanti datang lagi. Terjun lagi ke laut untuk menikmati indah dunia di bawahnya. Seperti junkies yang menganggap sakit adalah nikmat sesungguhnya.

Kami memutuskan untuk pulang setelah itu. Hari sudah terlalu malam, pukul 22.15 saat kita keluar ruang pertunjukan. Aku juga sudah tidak kuat menahan kantuk. Kami berpisah. Aku lelah. Hatiku lelah.


"Sayang, dari tadi kamu aku hubungin gak bisa. HP kamu kenapa? Ini aku mau nanya, list temen2 kamu yang mau diundang siapa aja?" sender: Ari.

Tap OK to shutdown your phone

OK



Minggu, 12 Februari 2012

Berbincang Dalam Diam

Aku punya satu tiket lagi darinya. Tiket pertunjukan tari kolaborasi di salah satu bengkel seni di pinggiran Jakarta. Dia bilang, "Simpan ini. Barangkali bisa buat bahan menulis di blog-mu lagi." seraya menyodorkan dua potongan tiket marun dan abu-abu. Miliknya yang marun, sisa lainnya milikku berbeda warna karena aku membayar tiket setengah harga hanya dengan menunjukkan kartu kecil berlogo Institut tempatku berdiskusi tentang seni.


Aku kabuli celotehnya, aku menulis lagi.


Hari ini entah hari keberapa aku tidak menulis di blog ini. Bahkan tidak mengunjunginya dalam waktu yang lama. Jika blog ini adalah sebuah rak, barangkali kecoa beranak pinak di sini. Atau barangkali ini buku harian, lembaran kertasnya mungkin sudah menempel satu dengan yang lainnya karena lembab.


Aku ingat beberapa waktu lalu memposting sebuah tulisan hanya karena secarik kertas kecil yang aku bilang (di tulisanku tempo hari) sering menyembul keluar ketika aku membuka tas cokelat mudaku. Kali ini aku tidak mau lagi diganggu sembulan semacam itu. Tiket marun dan abu abu milik kami aku simpan di dalam dompet. Aku kancing di salah satu kantongnya, aku tutup rapat. Mungkin mereka pengap. Aku pura pura tidak peduli.


Kali ini aku menyimak betul pertunjukan tari yang kami kunjungi. Menyimak betul betul. Meskipun di beberapa babak, aku kurang mengerti arti tembang tembang yang mereka nyanyikan dalam bahasa Sunda dan Jawa. Tapi aku menikmati, sangat. Aku pikir laki laki dan perempuan yang bisa menari itu seksi.


Sepanjang pertunjukan, mataku lekat pada deret alat gamelan dan para penari dari dua budaya berlainan itu beraksi menunjukkan diri. Berputar, meliuk, menghentak: berkeringat. Sepanjang pertunjukan kami tidak berbincang sama sekali. Hanya celetukan sesekali. Sungguh aku benar memperhatikan mereka. Sungguh. (Tanganku juga berkeringat).


Sedari tadi tidak ada perbincangan berarti tapi aku bicara: dalam hati. Bukan tidak ingin kau tau, karena kau pasti tau. Pun ketika kau tawarkan susu jahe di angkringan depan gedung pertunjukan, aku bicara dalam hati. Bukan tidak ingin kau tau, karena kau pasti tau.


Dalam diam kita berbincang: tentang aku, kamu, kuliah, nikah, kacamata. Juga tentang tiket bioskop yang sering menyembul keluar dari tasku. Aku tau ketika kau menyeruput susu jahemu kau bilang: "Tiket itu masih sering menyembul keluar tasmu? Tas yang inikah? Yang cokelat muda ini? yang kau sandang sedari tadi? Tas yang sama yang kau pakai nonton denganku tempo hari? Aku simak, bajumu juga sama. Baju yang sama yang kau pakai nonton denganku tempo hari." Dan kau tau aku menjawab semua pertanyaanmu dengan satu jawaban: "Ya.", sambil meneguk susu jaheku.


Hidup harus terus berjalan, meskipun kenyataan tak sesuai apa yang diimpikan. Remuk redam itu masih terasa tapi aku mencoba terbiasa. Toh aku memang sudah biasa. Semenjak kau sudahi petualanganku merebut hatimu, pekerjaanku mulai bertambah: merapikan potongan hati yang terburai-setiap hari.


Mungkin kemarin dan esok lusa nanti, aku memilih berbincang denganmu lewat diam. Karena bicara tak lagi mampu menumpah ruahkan semua. Sekalipun aku berkali mencoba.

Senin, 14 November 2011

25.09.2011.16.15

Tiket itu masih tersimpan apik di tas cokelat mudaku. Tempat dimana aku biasa mengemas senyummu untuk [lagi lagi] membukanya di rumah sebagai teman minum kopi. Tiap kali kubuka tasku, tiket itu menyembul keluar seolah memaksaku mengulang ingatan tentang sore itu dan sore sore lain yang telah kita lahap bersama.

Sore itu kita nonton... Ah, tidak begitu penting apa yang kita saksikan. Ini hanya tentang sore yang ingin kita habiskan. Pertunjukan itu hanya sebuah alasan. Bukan begitu, Tuan? Bahkan sesudahnya aku hanya komentar: filmnya kurang bagus. Karena aku tak menyimak isinya, sibuk membenahi isi hatiku.

Lalu sesudah itu, berbalur jus jeruk, bibir kami sibuk membincang tentang apa saja: juga tentang kuliah, kerja, nikah, aku, kamu, kacamata. Tak satupun yang ku tanggapi benar kecuali tentang alasan kenapa kau sempat "menghilang" tempo hari.

Aku tercekat, ketika hati yang sedari tadi, di teater 3 aku benahi [agar ketika akan ku ungkap dia tidak berebut keluar atau malah tersendat di pangkal lidah] harus kutelan bulat bulat ke dalam perut, jauh dari tempat yang harusnya kukembalikan lagi: ke dalam hati. Paham sudah aku tentang semua yang selama ini jadi pertanyaanku. Dan harusnya aku merasa beruntung tidak sampai jadi menelanjangi hatiku sendiri di depanmu, di depan jus jeruk kita yang tinggal separuh.

Katamu "Bahkan, padamu, aku waspada. Tidak ingin membuatmu berderai derai seperti lainnya.". Paham sudah aku.

Kemudian surat itu kusesapi jauh,, dan semakin jauh ke bawah bantal. Dimana bangkai dan kulit pisang terbuang di sana. Sampai aku benar benar yakin, suatu saat aku butuh surat itu untuk kutunjukkan padamu betapa aku merindu, aku tidak akan pernah menemukannya lagi. Atau akan kutemukan dengan sangat lusuh, bersampul mendung, berbau anyir.

Patah.

Kamis, 25 Agustus 2011

Dhurung Perang Kok Wes Nyerah


Sudah ku putar 13 kali cangkir kopi Nescafe merahku, padahal isinya robusta buatan Fabriek Koffie Aroma Banceuy. Sisa gilingan kasar kopinya nempel di bibir cangkir. Kuputar lagi ke kiri, belum sempat sampai ke titik awalnya, kubalik putar kekanan. Kupandangi lekat lekat corak cokelat pekat, sepat. Kupeluk kedua lututku cekat.


Entah apa yang kupikirkan sembari memandangi kopi sepatku yang sudah dingin itu. Dipojokan kamar di samping tempat tidur dimana aku biasa memimpikanmu. Mataku sesekali berpaling ke tembok, menyelingkuhi cangkir kopi dinginku. Keduanya: cangkir kopi dingin dan tembok, tidak bisa merangkum jadi satu semua pikiranku. Kadang teringat sepeda ontel karat punya Mbah, kadang teringat deadline majalah di kantor, kadang teringat komik Gundala, kadang memikirkanmu. Ya, saya tidak pernah bisa mengingatmu. Tapi memikirkan. Jauh lebih berat ketimbang sekedar mengingat. Ada beban tersendiri ketika tau tentangmu, tentang kisah cinta cinta-an ala mu.


Rasanya aku ingin jadi orang lain yang tidak perlu tau cerita ini. Jadi aku bebas lakukan apa saja yang aku mau. Merencanakan apa saja yang aku ingin kerjakan. Walau mungkin rencana rencanaku itu tidak akan aku laksanakan semuanya. Setidaknya aku punya mimpi yang ingin kukabuli sendiri.


Kalau begini, aku jadi orang yang ironi. Jadi punya ribuan alasan untuk tidak merencanakan apapun. Juga rencana untuk menambahkanmu pada daftar wishlist setelah kuliah dan sebelum Piaggio LX 150.


Aku punya bedil, tapi tidak boleh menggunakannya. Atau mengambil kesimpulan bahwa rasanya sia sia menghunus bedil padamu. Kau tidak akan mati oleh bedilku. Kira kira begitu. Kira kira kalau aku lakukanpun, rasanya akan sia sia.


Aku memutuskan untuk mundur teratur. Bukan mundur dengan kaki kanan, lalu disusul kaki kiri. Aku mundur dengan mengatur basahan basahan yang meleleh di ujung ujung mataku. Tak perlu kutunjukkan bendera putih itu padamu, kau tak perlu tau kalau aku berperang melawan inginku. Aku juga tidak serta merta menjadikan bendera putih itu sebagai alat seka lelehan itu, aku benar benar tidak ingin kau tau.


Aku memutuskan untuk mundur. Walau perang untuk merebutmu baru jadi rencana. Aku punya perang lain: perang melawan mataku. Aku menyerah, sudah tau bakal kalah.

Rabu, 24 Agustus 2011

Entah Kau Apa

Salahku memang, yang diam diam menyimpan rasa yang sebenarnya tidak lazim terbentuk. Aku jelas tau tentangmu:tentang siapa yang kau kagumi. Jelas aku tau itu. Sudahku ingatkan berkali kali pada diriku, dilarang jatuh cinta pada orang yang jelas jelas aku tau pada siapa hatinya bertaut. Kelak hanya kecewa yang akan aku jemput. Tapi siapa yang bisa mengendalikan rasa sejenis ini, pun aku.

Kau tau saat kau bercerita tentangnya, kita tertawa. Kadang aku semangatimu untuk tetap berdoa. Sebenarnya di sela perbincangan kita, terselip doa lain. Doa egoisku agar kau menyudahi percakapan menyayat hati yang harus tetap aku nikmati ini.

Sekeras kerasnya aku mencoba membohongi hati, bahwa ini hanya sekedar rasa mengagumi. Semakin keras aku mangkir, semakin hati retak tetak di pinggir. Aku roboh.

Sepanjang hari aku hanya bisa diam, membututi gerak gerikmu dari berbagai media sosial. Kadang tertawa, kadang diam, kadang ingin melemparmu dengan gelas, ketika kau menggambarkan sesuatu di media media itu. -kadang aku juga cemburu! Itu alasan kenapa aku ingin melemparmu dengan gelas.

Tapi sungguh, itu hanya "ingin" tidak pernah "akan", kau terlalu indah kalau hanya untuk kulempari gelas.

Pernah sekali waktu kita berbincang tentang masa depan, mungkin hanya 2-3 jam bersamamu. Sudah penuh otakku dengan berbagai pandangan dan wejangan tentang hidup seperti perbincangan 2-3 tahun. Kau benar benar menyita konsentrasiku. Apa kau tau juga, diam diam aku mencuri matamu.

Kita berbincang tentang berbagai hal, terakhir tentang... ah... hal kecil. Tapi menarik. Selalu kau buat hal apapun menjadi menarik untuk dibicarakan. Dan selalu tidak pernah kau buat aku bosan.


Untuk ini semua, aku minta maaf padamu. Untuk mata yang diam diam telah aku curi.
Juga minta maaf untuk bidadarimu, karena telah lancang mencuri mata pemujanya.
Walau aku tau pasti, bidadarimu tidak akan keberatan untuk itu. Kami berteman baik.
Maaf Matahari Jam Tujuh Pagi. Maaf.

Senin, 01 Agustus 2011

Shoibatul Aslameeyah


Tempo hari kita bertemu, kau nangis. Tapi aku tidak pernah bertanya atau terlintasi pertanyaan kenapa kau menangis. Aku malah tertawa. Kau raih tanganku, kau lepas lagi: menangis lagi. Aku tertawa lagi.


Empat belas tahun setelah itu, kita tidak lagi bertemu. Aku sudah tidak tahu lagi kabarmu. Belakangan kau sudah tidak pernah berkirim pesan. Dan sampai sekarang aku masih belum tahu, kenapa Tuhan hanya beri kita waktu satu minggu untuk bertemu. Itu pun tidak ada sepotong kata yang keluar dari mulutmu. Aku hanya mendikte gerak bibirmu.


Satu Agustus ini kau berulang tahun, tepat di hari pertama puasa. Menghubungimu untuk mengajak buka puasa bersama, aku tak tau bagaimana caranya. Cukup saja ku ingat dalam hati kalau umurmu sekarang sudah bertambah 14 tahun sejak pertama kita bertemu. Diam diam aku kirim salam untukmu, pada Tuhan. Aku yakin Tuhan tidak akan kehabisan cara untuk menyampaikan salamku untukmu.


Kalau kau ada di sini, bersamaku, bersama kami. Aku yakin kau sama persis dengan Halimatus Sa'dyah: sama tinggi, sama cantik, sama ceriwis. Persis. Kau juga pasti akan mengundang beberapa teman dekatmu untuk berbuka di rumah, persis seperti yang Dyah lakukan kemarin dirumah kita.


Tujuh hari setelah hari kelahiranmu, kau meninggalkan saudara kembarmu bermain sendirian. Apa kau tidak merasa kesepian, kalian di perut Ibu berduaan. Tapi Bapak berusaha meyakinkan Ibu dan kami, kakak kakakmu, bahwa kau punya tempat main baru di sana. Kau juga selalu menjaga dan menemani Dyah dari sana.


Sehari sebelum puasa, Bapak bilang tempatmu susah ditemukan. Mungkin karena hujan kemarin lusa yang membuat pusaramu tergerus rata dengan tanah. Tidak ada lagi gundukan. Tapi untung bapak masih menemukan nisan kayu kecilmu tertancap miring di ujung, dekat pusara Mbah. Secepatnya kami akan benahi rumahmu. Tempo hari kami memang ingin menyelimuti pusaramu dengan keramik, tapi dilarang oleh pengelola pemakaman. Kami hanya boleh menanam rumput.


Kalau kau masih hidup sampai sekarang, rumah kita pasti ramai. Tiap hari kita bercanda bahkan bertengkar, seperti aku bersama saudara kembarmu, Dyah. Kalian pasti akan sering main bersama atau nonton TV di rumah sambil saling mengepang rambut.


Selamat ulang tahun Ibah, kami merindukanmu. Kau tau apa yang di minta Dyah sebagai hadiah ulang tahunnya. Hanya dua bungkus sop buah, katanya untuk berbuka bersama temannya. Kemarin aku ngebut pulang ke rumah dengan dua bungkus es buah pesanan Dyah. Sungguh kalian sederhana, tapi mesra. Diam diam aku bilang cinta.


NB: Ceritakan padaku, Ibah. Bagaimana surga?

Selasa, 19 Juli 2011

#kopi

:: Pertama kali saya jijik ngeliat Bapak sama Mbah asik ngobrol minum cairan hitam pekat #kopi

:: Kata Bapak: Mau coba? | Iiiiiih.. gak. | #kopi

:: Bapak beli Coca Cola botol kecil. Isinya habis, bapak isi ulang dengan kopi. Saya gak tau: minum #kopi

:: Piiih..!!! Pait! Apaan nih? #kopi

:: Gimana rasanya? | Pait, sisanya bikin asem | #kopi

:: Bapak sering diem, baca koran, atau ngobrol sama Ibu sambil minum kopi #kopi

:: Waktu pengen cerita tentang kakak kelas yang aku taksir, aku coba bikin kopi: ngobrol sama Ibu #kopi

:: Saking serunya aku cerita sama Ibu, kopi jadi manis #kopi

:: Ibu bilang: Tua kamu, minum kopi | aku bilang: Tua? Kayak Bapak? #kopi

:: Kata Ibu: Ah,, kalo dibilangin malah ngebalikin | Ibu minum kopi-ku #kopi

:: Priiich... pih.. pih! Apa ini? Ampas kayu? *bubuk kopi ngambang di cangkir #kopi

:: Lain kali, kalo bikin kopi airnya harus yang mendidih. Aku belajar masak air #kopi

:: Kopi instan boleh langsung di seduh pake air termos. Kopi tubruk gini gak bisa. Aku belajar bikin singkong goreng #kopi

:: Kenapa baru sekarang itu Mahasiswa pada turun ke jalan?! | Emang kenapa sih Pak? | *Ganti channel #kopi

:: Itu almamatermu kok warnanya sama kayak almamater UI? | Sepupuan Pak | Oooh...| *balik halaman koran #kopi

:: Buka bungkusnya dan temukan hologram berhadiah langsung *jika beruntung #kopi

:: “Tinjauan Pembuatan Cover Novel Dwilogi pada Penerbit Java Media” | 02.18 #kopi

:: Bu! Aku masa percobaan tiga bulan Di Erlangga | Ampas kopi turun sempurna ke dasar gelas belimbing #kopi

:: Masuk angin itu Put. Ini bekamannya jangan kena air dulu ya selama 6 jam. Nih, sambil diminum KOPI RADIX-nya. Kata Mamah @nengshin #kopi

:: Bravo!, Choice, Menapak Jejak Amien Rais, Ruang desain Erlangga, Kopi Mas Eko #kopi

:: Kopi, Kopi, Kopi, Kamu, Kopi, Kopi, Kopi, Kamu lagi, habis itu Kopi #Kopi

:: Gak peduli lagi sama hologram berhadiah. Kopi di mejaku dibungkus papir tipis, bukan plastik. Robusta Giling Kasar asal Banceuy #kopi

:: Kau masih di urutan ke empat sehabis kopi, kopi, dan kopi #kopi

Senin, 11 Juli 2011

Selamat Pagi Bapak

Tadi, aku duluan lho yang bangun. Masih manis, sisa gurau kita kemarin sore. Satu yang bikin saya tergelitik, katamu: kalau sudah pensiun, Bapak mau buka gerobak nasi goreng. Ah Bapak, lha wong mie goreng instan merk baru yang aku belikan saja kau kuahi. Tapi kemudian kuyu. Tak bisa membayangkan kau pensiun. Saya rasa saya belum dan tidak mau membayangkan itu. Kita sudah sama sama tua ya Pak. Bedanya saya masih suka main di mall.


Kenapa ketika bercerita, tawa dan tangis itu beda tipis ya Pak? Saat saya mendengar ceritamu, saya tertawa sampai menangis dan menangis sambil tertawa. Kopi kita sampai dingin Pak, keasyikan bercerita. Berkerak dan bernoda.


Iya Pak,, cerita waktu kau melamar Ibu. Itu.... hahahahahaaa... kau suguhkan begitu renyahnya. Ketika itu kau baru lulus, Ibu nanti menyusul. Kau kumpulkan uang hasil kerja kontrakmu, tapi masih belum tau mau buat apa. Setelah Ibu lulus dan yakin kalau uang itu untuk melamarnya, kau malah memakainya untuk menguliahkan adikmu. Ibu ungu! Ahaha,, wajah ibu benar ungu. Ungu! Tapi bukan Bapak namanya kalau gak pandai merayu. Entah pakai ilmu apa, kau berhasil meyakinkan Ibu untuk menunggu. Kau janjikan bunga anggrek: Ungu. Demi kau Bu, kalau ada yang memberiku anggrek ungu, akan kusuruh dia berenang sampai Tidung!


Akhirnya, jadi juga kau melamar Ibu. Beradu pandang pada Mbah si Kakek sinis. Lagi lagi ilmu apa Pak? Dari siapa? Kau bisa meyakinkan Mbah kalau anak perempuan satu satunya itu bakal aman di tangan bujang sepertimu. Ah, saya yakin Mbah cuma malas main catur denganmu. Maka dia lepas anaknya dengan Qur'an, mukena, seperangkat bedak dan gincu.


Saya bilang: Ibu kau guna guna Pak? Dia langsung meniup tangannya dan membuat belahan di rambutnya: Ibu itu naksir berat sama saya, paling ganteng se-aliyah. Dilihat dari garis mukanya, sedikit banyak saya percaya. Gincu yang kau berikan sebagai iringan mahar tempo hari sudah tak tau ada di mana. Tapi bibir ibu masih tetap saja merah: delima.


Jelas seperti menonton film, aku bayangkan kau 25-30 tahunan yang lalu. Tapi aku tidak bisa bayangkan kau pensiun, Pak. Kau akan bercerita tentang 30-45 tahun lalu. Tentang kau dapat sepatu hanyut di pinggir pantai biru. Jangan pensiun dulu lha Pak,, saya janji akan mengenalkanmu pada si Pembawa Anggrek Ungu. Tapi nanti, kucari dulu.

Rabu, 06 Juli 2011

Tentang Bulan Tujuh



Hari ini hari ke enam Juli tapi sudah ribuan yang terjadi: ratusan untuk agenda kerja yang selaras, ratusan untuk perjalanan sederhana tiap hari, ratusan untuk mimpi yang satu malam saja bisa terpartisi berkali kali, dan sisanya untuk selaksa indah yang tidak sengaja kau titipkan di satu hari antara tanggal satu ke tanggal enam Juli.


Saya sangat setuju kalau manusia dicipta Tuhan bukan sebagai makhluk tau segala. Kau jadi tidak perlu tau apa yang saya rasakan, meski saya lima sentimeter saja disampingmu. Pun saya, terhadapmu. Saya suka menebak, saya suka menerka, meski kadang tebakan dan terkaan saya meleset. Saya hanya mau main tebak tebakan.


Kau tau, kadang menebak hatimu itu membuat saya senyum senyum sendiri. Apalagi menebak hati saya, makin seru jadinya karena saya bebas memberi warna pada berbagai kemungkinan: makin gila imajinasi saya!


Bulan bulan sebelumnya tidak begini, saudara. Biasa. Kau ya kau dengan berbagai keseruan hidup, saya ya saya dengan beragam cerita. Kita punya masing masing satu blocknote untuk kita gambari pelangi. Tapi ini Bulan tujuh, pelangi yang kau gambar di blocknote-mu nyasar ke blocknote-ku. Biru, ungu tanpa kelabu: kesengsem aku.


Jadi makin sering saya main tebak tebakan tentang saya, tentang kamu. Biar saya bikin cerita saya sendiri, kemudian minta acc ke Tuhan. Semoga Beliau tidak berkeberatan.

Senin, 04 Juli 2011

Gadis Gula Batu


Ah kata... Kau bisa begitu menusuk pada hati, begitu berkesan, begitu anggun

Tapi kadang kau tidak bisa melukiskan sesuatu: buntu. Seperti, seorang teman pernah menyebut gadis pujaannya sebagai Gadis Gula Batu. SEMPURNA! Kalau saya yang jadi wanita itu, betapa pipi saya tidak sempat pucat. Gadis,, diksi paling cantik buat menyebut perempuan: gambarannya seperti muda, ranum, dan bersemangat. Gula Batu: bahan pemanis alami yang memang manis dari janin; sangat manis; manis; begitulah.


Tapi kata apa yang bisa menggambarkan adam sepertimu? Yang senada Gadis, dan sejajar Gula Batu. Yang memang kau muda, ranum dan bersemangat. Yang memang manis tapi beringas. Ya, adam sepertimu. Saya bingung: sungguh. Apa kata yang bisa membuat mukamu bersemu memerah tapi tetap gagah. Ya seperti kau sekarang ini.


Sepertinya kata itu hanya bisa terwakilkan di imajiku. Tidak bisa terungkapkan. Kalau boleh, aku juga akan memanggilmu Gadis Gula Batu. Tak apa kau setara Gadis, Kau Gula, tapi juga Batu: Gadis Gula Batu.


Karena kau lelaki Gadis Gula Batu. Ah! Buntu!



*Renault Chaniago, kata katamu saya pinjam. Brilian!

Senin, 06 Juni 2011

Senja Berpelangi


Kau masih ingat Matahari,

surat yang aku bilang "tidak pernah terkirim"

Kali ini aku bulatkan untuk mengirimnya

: ke bawah bantal


Surat itu kuwangikan senyummu

Kuhiasi parau suaramu

Kupendam jauh di bawah bantal.

Bukan untuk menimbunmu dengan berbagai mimpi

Tapi ingin merangsekkan pucukmu ke dalamnya


Surat itu kian hari bertambah padat

Kusesaki dengan kalimat puja puji tentangmu

Dari pagi, siang, senja, malam, pagi

Sampai senja lagi yang berpelangi.


Kuingat sore itu kau mendungi aku

dengan selaksa murung

setelah kita dihujani sangka sangka buruk

pada kita sendiri


Aku berusaha bicara

cari setitik baik

dan berbagai pembelaan

tapi kau tidak percaya


Apalagi yang bisa kulakukan

pada hujan yang semakin deras

aku pikir aku hanya butuh diam


Hujan hampir tidak pernah berbohong

Kecuali waktu tiga malam lalu saat reda,

malah awan hitam yang menutupi


Reda memang harus ditunggu, dinanti

hingga datang pelangi

itu Tuhan, dan hujan punya janji


Surat itu kugambari Pelangi

Rabu, 20 April 2011

Sekalipun Saya bersanggul, Kau Tak Akan Tau

Hari ini saya lihat anak anak seumuran Sekolah Dasar bersolek dari pagi buta pakai kemben. Kebaya warna warni. Sanggul rupa bentuk. Hias hias wajah. Selop dan kelom hiasi kaki mereka. Ramai sorak sorai di jalan raya.


Betapa dari kecil mereka diajarkan untuk mengenali budaya.

Kartini, dari Jawa yang sedang berlimpah puja hari ini.

Dielu sebagai pembuka rantai kaki wanita yang konon sedari pagi terikat di kaki rak piring belakang rumah. Sosok yang konon paling lantang teriakkan emansipasi wanita.


Tapi hari ini pulalah saya merindu Khadijah. Wanita yang tidak pernah kita peringati hari lahirnya, tapi menjadi bagian dari sejarah dunia. Wanita yang ada di belakang Muhammad, suaminya. Seorang karir yang tak lupa fitrahnya sebagai seorang wanita. Dan sekaligus seorang istri.


Khadijah dijejali ke otak saya, jauh sebelum saya kenal kebaya: kenal Kartini.

Saya ingat ketika TPA (setara pendidikan anak usia dini, berbasis agama), saya diajarkan bernyanyi:


...

Nabimu.... prok prok prok!

Muhammad.

Istrinya.... prok prok prok!

Khadijah.

dan juga.... prok prok prok!

Siti Aisyah.

...


Khadijah berhasil menginspirasi saya. Mendoktrin bahwa sebenarnya wanita juga bisa menghidupi dirinya sendiri. Sekaligus mengingatkan meskipun begitu, wanita tetaplah makmum seorang ikhwan. Jauh lebih dulu dari apa yang baru kau lakukan. Dan lebih arif [jika saja wanita terkini tidak menginterpretasikan perjuanganmu se-bablas kini]


Dan Kartini, sekalipun saya bersanggul hari ini, orang orang tak akan tau.

Karena Khadijah mencontohkan saya berhijab.

Jumat, 18 Maret 2011

Ketika Berdua Bertelanjang Kaki


Hari itu Jumat, kita masih saja berlaga tidak saling kenal

Layaknya dua anak kecil yang diprovokasi orangtuanya yang bermusuhan

Aku suka batik hijaumu, baru

(mungkin juga sudah pernah kau pakai sebelumnya, aku tidak tau. Sebab dari kemarin lusa kita pura pura tak saling tau)


Sama kita pakai batik, yang lain juga

Punyaku merah disambangi hitam di sulir sulirnya

Kau hijau, sarimbit

Aku rasa aku bisa membayangkan batik untuk yang wanita


Dari dulu aku benci melihat hijau dan merah berpeluk dalam satu ruang

Begitu juga kata roda warna

Ah, hijau dan merah tidak mahromnya

Pun kita


Aku menyesali batik kita komplementer [?]

Sudah lah.... (aku mencoba menghibur diri)

Itu hanya batik


Aku angkat sedikit rok batikku

untuk membuka jalan pada kedua kakiku yang telanjang

Berjalan ke arahmu (sebenarnya ke arah pintu, tapi di situ ada kau)

Aku liat kau juga tergesa menuju pintu

Kakimu telanjang juga


Kedua kaki kita sama polosnya

menapak dingin dingin ubin

meraba debu debu sisa sepatu orang

hanya kaki kita yang telanjang


hanya kaki kita yang pasrah


hanya kaki kita yang jujur


hanya kaki kita yang berdebu


hanya kita yang pura pura dungu