Rabu, 10 Mei 2023
Sasmoro Dahana
Saia juga sudah punya blog sebelumnya tapi namanya terlalu sulit untuk diingat.
Sasmoro Dahana
atau Asmoro Dahana
atau Asmara Dahana
adalah nyanyian cinta.
Jadi blog ini berisi lagu2 cinta,,
hahaa..
bukan bukan..
blog ini hanya coretan kata yang [kadang] bermakna.
Simak sajalah...
Senin, 28 Mei 2012
Beat Merah Sang Gatot Kaca
Rabu, 09 Mei 2012
Aku Segera Menikah
Seperti biasa, seperti hari hari janji temu kita sebelumnya. Aku selalu berharap punya banyak waktu untuk lebih lama bersamamu. Membincangkan apa saja, berkomentar tentang siapa saja. Hingga pagi pun mau, bila oh denganmu. Karena ku selalu... Senang bersamamu... kira kira begitu kata Naif. -bullshit!- Jelas ini masalah hati, masalah kagum padamu yang berlebihan sampai akhirnya salah terapan.
Aku sadar betul aku salah paham tentang kita. Dan aku yakin kau pun sudah paham. Tapi aku pura pura alpa. Menganggap pertemuan pertemuan kita itu biasa saja. Aku lelah. Tapi seperti snorkling, lelah setelah bergulat dengan air laut dan ombak tidak membuatku lantas kapok untuk nanti datang lagi. Terjun lagi ke laut untuk menikmati indah dunia di bawahnya. Seperti junkies yang menganggap sakit adalah nikmat sesungguhnya.
Minggu, 12 Februari 2012
Berbincang Dalam Diam
Aku punya satu tiket lagi darinya. Tiket pertunjukan tari kolaborasi di salah satu bengkel seni di pinggiran Jakarta. Dia bilang, "Simpan ini. Barangkali bisa buat bahan menulis di blog-mu lagi." seraya menyodorkan dua potongan tiket marun dan abu-abu. Miliknya yang marun, sisa lainnya milikku berbeda warna karena aku membayar tiket setengah harga hanya dengan menunjukkan kartu kecil berlogo Institut tempatku berdiskusi tentang seni.
Aku kabuli celotehnya, aku menulis lagi.
Hari ini entah hari keberapa aku tidak menulis di blog ini. Bahkan tidak mengunjunginya dalam waktu yang lama. Jika blog ini adalah sebuah rak, barangkali kecoa beranak pinak di sini. Atau barangkali ini buku harian, lembaran kertasnya mungkin sudah menempel satu dengan yang lainnya karena lembab.
Aku ingat beberapa waktu lalu memposting sebuah tulisan hanya karena secarik kertas kecil yang aku bilang (di tulisanku tempo hari) sering menyembul keluar ketika aku membuka tas cokelat mudaku. Kali ini aku tidak mau lagi diganggu sembulan semacam itu. Tiket marun dan abu abu milik kami aku simpan di dalam dompet. Aku kancing di salah satu kantongnya, aku tutup rapat. Mungkin mereka pengap. Aku pura pura tidak peduli.
Kali ini aku menyimak betul pertunjukan tari yang kami kunjungi. Menyimak betul betul. Meskipun di beberapa babak, aku kurang mengerti arti tembang tembang yang mereka nyanyikan dalam bahasa Sunda dan Jawa. Tapi aku menikmati, sangat. Aku pikir laki laki dan perempuan yang bisa menari itu seksi.
Sepanjang pertunjukan, mataku lekat pada deret alat gamelan dan para penari dari dua budaya berlainan itu beraksi menunjukkan diri. Berputar, meliuk, menghentak: berkeringat. Sepanjang pertunjukan kami tidak berbincang sama sekali. Hanya celetukan sesekali. Sungguh aku benar memperhatikan mereka. Sungguh. (Tanganku juga berkeringat).
Sedari tadi tidak ada perbincangan berarti tapi aku bicara: dalam hati. Bukan tidak ingin kau tau, karena kau pasti tau. Pun ketika kau tawarkan susu jahe di angkringan depan gedung pertunjukan, aku bicara dalam hati. Bukan tidak ingin kau tau, karena kau pasti tau.
Dalam diam kita berbincang: tentang aku, kamu, kuliah, nikah, kacamata. Juga tentang tiket bioskop yang sering menyembul keluar dari tasku. Aku tau ketika kau menyeruput susu jahemu kau bilang: "Tiket itu masih sering menyembul keluar tasmu? Tas yang inikah? Yang cokelat muda ini? yang kau sandang sedari tadi? Tas yang sama yang kau pakai nonton denganku tempo hari? Aku simak, bajumu juga sama. Baju yang sama yang kau pakai nonton denganku tempo hari." Dan kau tau aku menjawab semua pertanyaanmu dengan satu jawaban: "Ya.", sambil meneguk susu jaheku.
Hidup harus terus berjalan, meskipun kenyataan tak sesuai apa yang diimpikan. Remuk redam itu masih terasa tapi aku mencoba terbiasa. Toh aku memang sudah biasa. Semenjak kau sudahi petualanganku merebut hatimu, pekerjaanku mulai bertambah: merapikan potongan hati yang terburai-setiap hari.
Mungkin kemarin dan esok lusa nanti, aku memilih berbincang denganmu lewat diam. Karena bicara tak lagi mampu menumpah ruahkan semua. Sekalipun aku berkali mencoba.
Senin, 14 November 2011
25.09.2011.16.15
Sore itu kita nonton... Ah, tidak begitu penting apa yang kita saksikan. Ini hanya tentang sore yang ingin kita habiskan. Pertunjukan itu hanya sebuah alasan. Bukan begitu, Tuan? Bahkan sesudahnya aku hanya komentar: filmnya kurang bagus. Karena aku tak menyimak isinya, sibuk membenahi isi hatiku.
Lalu sesudah itu, berbalur jus jeruk, bibir kami sibuk membincang tentang apa saja: juga tentang kuliah, kerja, nikah, aku, kamu, kacamata. Tak satupun yang ku tanggapi benar kecuali tentang alasan kenapa kau sempat "menghilang" tempo hari.
Aku tercekat, ketika hati yang sedari tadi, di teater 3 aku benahi [agar ketika akan ku ungkap dia tidak berebut keluar atau malah tersendat di pangkal lidah] harus kutelan bulat bulat ke dalam perut, jauh dari tempat yang harusnya kukembalikan lagi: ke dalam hati. Paham sudah aku tentang semua yang selama ini jadi pertanyaanku. Dan harusnya aku merasa beruntung tidak sampai jadi menelanjangi hatiku sendiri di depanmu, di depan jus jeruk kita yang tinggal separuh.
Katamu "Bahkan, padamu, aku waspada. Tidak ingin membuatmu berderai derai seperti lainnya.". Paham sudah aku.
Kemudian surat itu kusesapi jauh,, dan semakin jauh ke bawah bantal. Dimana bangkai dan kulit pisang terbuang di sana. Sampai aku benar benar yakin, suatu saat aku butuh surat itu untuk kutunjukkan padamu betapa aku merindu, aku tidak akan pernah menemukannya lagi. Atau akan kutemukan dengan sangat lusuh, bersampul mendung, berbau anyir.
Patah.
Kamis, 25 Agustus 2011
Dhurung Perang Kok Wes Nyerah
Sudah ku putar 13 kali cangkir kopi Nescafe merahku, padahal isinya robusta buatan Fabriek Koffie Aroma Banceuy. Sisa gilingan kasar kopinya nempel di bibir cangkir. Kuputar lagi ke kiri, belum sempat sampai ke titik awalnya, kubalik putar kekanan. Kupandangi lekat lekat corak cokelat pekat, sepat. Kupeluk kedua lututku cekat.
Entah apa yang kupikirkan sembari memandangi kopi sepatku yang sudah dingin itu. Dipojokan kamar di samping tempat tidur dimana aku biasa memimpikanmu. Mataku sesekali berpaling ke tembok, menyelingkuhi cangkir kopi dinginku. Keduanya: cangkir kopi dingin dan tembok, tidak bisa merangkum jadi satu semua pikiranku. Kadang teringat sepeda ontel karat punya Mbah, kadang teringat deadline majalah di kantor, kadang teringat komik Gundala, kadang memikirkanmu. Ya, saya tidak pernah bisa mengingatmu. Tapi memikirkan. Jauh lebih berat ketimbang sekedar mengingat. Ada beban tersendiri ketika tau tentangmu, tentang kisah cinta cinta-an ala mu.
Rasanya aku ingin jadi orang lain yang tidak perlu tau cerita ini. Jadi aku bebas lakukan apa saja yang aku mau. Merencanakan apa saja yang aku ingin kerjakan. Walau mungkin rencana rencanaku itu tidak akan aku laksanakan semuanya. Setidaknya aku punya mimpi yang ingin kukabuli sendiri.
Kalau begini, aku jadi orang yang ironi. Jadi punya ribuan alasan untuk tidak merencanakan apapun. Juga rencana untuk menambahkanmu pada daftar wishlist setelah kuliah dan sebelum Piaggio LX 150.
Aku punya bedil, tapi tidak boleh menggunakannya. Atau mengambil kesimpulan bahwa rasanya sia sia menghunus bedil padamu. Kau tidak akan mati oleh bedilku. Kira kira begitu. Kira kira kalau aku lakukanpun, rasanya akan sia sia.
Aku memutuskan untuk mundur teratur. Bukan mundur dengan kaki kanan, lalu disusul kaki kiri. Aku mundur dengan mengatur basahan basahan yang meleleh di ujung ujung mataku. Tak perlu kutunjukkan bendera putih itu padamu, kau tak perlu tau kalau aku berperang melawan inginku. Aku juga tidak serta merta menjadikan bendera putih itu sebagai alat seka lelehan itu, aku benar benar tidak ingin kau tau.
Aku memutuskan untuk mundur. Walau perang untuk merebutmu baru jadi rencana. Aku punya perang lain: perang melawan mataku. Aku menyerah, sudah tau bakal kalah.
Rabu, 24 Agustus 2011
Entah Kau Apa
Senin, 01 Agustus 2011
Shoibatul Aslameeyah
Tempo hari kita bertemu, kau nangis. Tapi aku tidak pernah bertanya atau terlintasi pertanyaan kenapa kau menangis. Aku malah tertawa. Kau raih tanganku, kau lepas lagi: menangis lagi. Aku tertawa lagi.
Empat belas tahun setelah itu, kita tidak lagi bertemu. Aku sudah tidak tahu lagi kabarmu. Belakangan kau sudah tidak pernah berkirim pesan. Dan sampai sekarang aku masih belum tahu, kenapa Tuhan hanya beri kita waktu satu minggu untuk bertemu. Itu pun tidak ada sepotong kata yang keluar dari mulutmu. Aku hanya mendikte gerak bibirmu.
Satu Agustus ini kau berulang tahun, tepat di hari pertama puasa. Menghubungimu untuk mengajak buka puasa bersama, aku tak tau bagaimana caranya. Cukup saja ku ingat dalam hati kalau umurmu sekarang sudah bertambah 14 tahun sejak pertama kita bertemu. Diam diam aku kirim salam untukmu, pada Tuhan. Aku yakin Tuhan tidak akan kehabisan cara untuk menyampaikan salamku untukmu.
Kalau kau ada di sini, bersamaku, bersama kami. Aku yakin kau sama persis dengan Halimatus Sa'dyah: sama tinggi, sama cantik, sama ceriwis. Persis. Kau juga pasti akan mengundang beberapa teman dekatmu untuk berbuka di rumah, persis seperti yang Dyah lakukan kemarin dirumah kita.
Tujuh hari setelah hari kelahiranmu, kau meninggalkan saudara kembarmu bermain sendirian. Apa kau tidak merasa kesepian, kalian di perut Ibu berduaan. Tapi Bapak berusaha meyakinkan Ibu dan kami, kakak kakakmu, bahwa kau punya tempat main baru di sana. Kau juga selalu menjaga dan menemani Dyah dari sana.
Sehari sebelum puasa, Bapak bilang tempatmu susah ditemukan. Mungkin karena hujan kemarin lusa yang membuat pusaramu tergerus rata dengan tanah. Tidak ada lagi gundukan. Tapi untung bapak masih menemukan nisan kayu kecilmu tertancap miring di ujung, dekat pusara Mbah. Secepatnya kami akan benahi rumahmu. Tempo hari kami memang ingin menyelimuti pusaramu dengan keramik, tapi dilarang oleh pengelola pemakaman. Kami hanya boleh menanam rumput.
Kalau kau masih hidup sampai sekarang, rumah kita pasti ramai. Tiap hari kita bercanda bahkan bertengkar, seperti aku bersama saudara kembarmu, Dyah. Kalian pasti akan sering main bersama atau nonton TV di rumah sambil saling mengepang rambut.
Selamat ulang tahun Ibah, kami merindukanmu. Kau tau apa yang di minta Dyah sebagai hadiah ulang tahunnya. Hanya dua bungkus sop buah, katanya untuk berbuka bersama temannya. Kemarin aku ngebut pulang ke rumah dengan dua bungkus es buah pesanan Dyah. Sungguh kalian sederhana, tapi mesra. Diam diam aku bilang cinta.
NB: Ceritakan padaku, Ibah. Bagaimana surga?
Selasa, 19 Juli 2011
#kopi
:: Kata Bapak: Mau coba? | Iiiiiih.. gak. | #kopi
:: Bapak beli Coca Cola botol kecil. Isinya habis, bapak isi ulang dengan kopi. Saya gak tau: minum #kopi
:: Piiih..!!! Pait! Apaan nih? #kopi
:: Gimana rasanya? | Pait, sisanya bikin asem | #kopi
:: Bapak sering diem, baca koran, atau ngobrol sama Ibu sambil minum kopi #kopi
:: Waktu pengen cerita tentang kakak kelas yang aku taksir, aku coba bikin kopi: ngobrol sama Ibu #kopi
:: Saking serunya aku cerita sama Ibu, kopi jadi manis #kopi
:: Ibu bilang: Tua kamu, minum kopi | aku bilang: Tua? Kayak Bapak? #kopi
:: Kata Ibu: Ah,, kalo dibilangin malah ngebalikin | Ibu minum kopi-ku #kopi
:: Priiich... pih.. pih! Apa ini? Ampas kayu? *bubuk kopi ngambang di cangkir #kopi
:: Lain kali, kalo bikin kopi airnya harus yang mendidih. Aku belajar masak air #kopi
:: Kopi instan boleh langsung di seduh pake air termos. Kopi tubruk gini gak bisa. Aku belajar bikin singkong goreng #kopi
:: Kenapa baru sekarang itu Mahasiswa pada turun ke jalan?! | Emang kenapa sih Pak? | *Ganti channel #kopi
:: Itu almamatermu kok warnanya sama kayak almamater UI? | Sepupuan Pak | Oooh...| *balik halaman koran #kopi
:: Buka bungkusnya dan temukan hologram berhadiah langsung *jika beruntung #kopi
:: “Tinjauan Pembuatan Cover Novel Dwilogi pada Penerbit Java Media” | 02.18 #kopi
:: Bu! Aku masa percobaan tiga bulan Di Erlangga | Ampas kopi turun sempurna ke dasar gelas belimbing #kopi
:: Masuk angin itu Put. Ini bekamannya jangan kena air dulu ya selama 6 jam. Nih, sambil diminum KOPI RADIX-nya. Kata Mamah @nengshin #kopi
:: Bravo!, Choice, Menapak Jejak Amien Rais, Ruang desain Erlangga, Kopi Mas Eko #kopi
:: Kopi, Kopi, Kopi, Kamu, Kopi, Kopi, Kopi, Kamu lagi, habis itu Kopi #Kopi
:: Gak peduli lagi sama hologram berhadiah. Kopi di mejaku dibungkus papir tipis, bukan plastik. Robusta Giling Kasar asal Banceuy #kopi
:: Kau masih di urutan ke empat sehabis kopi, kopi, dan kopi #kopi
Senin, 11 Juli 2011
Selamat Pagi Bapak
Tadi, aku duluan lho yang bangun. Masih manis, sisa gurau kita kemarin sore. Satu yang bikin saya tergelitik, katamu: kalau sudah pensiun, Bapak mau buka gerobak nasi goreng. Ah Bapak, lha wong mie goreng instan merk baru yang aku belikan saja kau kuahi. Tapi kemudian kuyu. Tak bisa membayangkan kau pensiun. Saya rasa saya belum dan tidak mau membayangkan itu. Kita sudah sama sama tua ya Pak. Bedanya saya masih suka main di mall.
Kenapa ketika bercerita, tawa dan tangis itu beda tipis ya Pak? Saat saya mendengar ceritamu, saya tertawa sampai menangis dan menangis sambil tertawa. Kopi kita sampai dingin Pak, keasyikan bercerita. Berkerak dan bernoda.
Iya Pak,, cerita waktu kau melamar Ibu. Itu.... hahahahahaaa... kau suguhkan begitu renyahnya. Ketika itu kau baru lulus, Ibu nanti menyusul. Kau kumpulkan uang hasil kerja kontrakmu, tapi masih belum tau mau buat apa. Setelah Ibu lulus dan yakin kalau uang itu untuk melamarnya, kau malah memakainya untuk menguliahkan adikmu. Ibu ungu! Ahaha,, wajah ibu benar ungu. Ungu! Tapi bukan Bapak namanya kalau gak pandai merayu. Entah pakai ilmu apa, kau berhasil meyakinkan Ibu untuk menunggu. Kau janjikan bunga anggrek: Ungu. Demi kau Bu, kalau ada yang memberiku anggrek ungu, akan kusuruh dia berenang sampai Tidung!
Akhirnya, jadi juga kau melamar Ibu. Beradu pandang pada Mbah si Kakek sinis. Lagi lagi ilmu apa Pak? Dari siapa? Kau bisa meyakinkan Mbah kalau anak perempuan satu satunya itu bakal aman di tangan bujang sepertimu. Ah, saya yakin Mbah cuma malas main catur denganmu. Maka dia lepas anaknya dengan Qur'an, mukena, seperangkat bedak dan gincu.
Saya bilang: Ibu kau guna guna Pak? Dia langsung meniup tangannya dan membuat belahan di rambutnya: Ibu itu naksir berat sama saya, paling ganteng se-aliyah. Dilihat dari garis mukanya, sedikit banyak saya percaya. Gincu yang kau berikan sebagai iringan mahar tempo hari sudah tak tau ada di mana. Tapi bibir ibu masih tetap saja merah: delima.
Jelas seperti menonton film, aku bayangkan kau 25-30 tahunan yang lalu. Tapi aku tidak bisa bayangkan kau pensiun, Pak. Kau akan bercerita tentang 30-45 tahun lalu. Tentang kau dapat sepatu hanyut di pinggir pantai biru. Jangan pensiun dulu lha Pak,, saya janji akan mengenalkanmu pada si Pembawa Anggrek Ungu. Tapi nanti, kucari dulu.
Rabu, 06 Juli 2011
Tentang Bulan Tujuh
Hari ini hari ke enam Juli tapi sudah ribuan yang terjadi: ratusan untuk agenda kerja yang selaras, ratusan untuk perjalanan sederhana tiap hari, ratusan untuk mimpi yang satu malam saja bisa terpartisi berkali kali, dan sisanya untuk selaksa indah yang tidak sengaja kau titipkan di satu hari antara tanggal satu ke tanggal enam Juli.
Saya sangat setuju kalau manusia dicipta Tuhan bukan sebagai makhluk tau segala. Kau jadi tidak perlu tau apa yang saya rasakan, meski saya lima sentimeter saja disampingmu. Pun saya, terhadapmu. Saya suka menebak, saya suka menerka, meski kadang tebakan dan terkaan saya meleset. Saya hanya mau main tebak tebakan.
Kau tau, kadang menebak hatimu itu membuat saya senyum senyum sendiri. Apalagi menebak hati saya, makin seru jadinya karena saya bebas memberi warna pada berbagai kemungkinan: makin gila imajinasi saya!
Bulan bulan sebelumnya tidak begini, saudara. Biasa. Kau ya kau dengan berbagai keseruan hidup, saya ya saya dengan beragam cerita. Kita punya masing masing satu blocknote untuk kita gambari pelangi. Tapi ini Bulan tujuh, pelangi yang kau gambar di blocknote-mu nyasar ke blocknote-ku. Biru, ungu tanpa kelabu: kesengsem aku.
Jadi makin sering saya main tebak tebakan tentang saya, tentang kamu. Biar saya bikin cerita saya sendiri, kemudian minta acc ke Tuhan. Semoga Beliau tidak berkeberatan.
Senin, 04 Juli 2011
Gadis Gula Batu
Ah kata... Kau bisa begitu menusuk pada hati, begitu berkesan, begitu anggun
Tapi kadang kau tidak bisa melukiskan sesuatu: buntu. Seperti, seorang teman pernah menyebut gadis pujaannya sebagai Gadis Gula Batu. SEMPURNA! Kalau saya yang jadi wanita itu, betapa pipi saya tidak sempat pucat. Gadis,, diksi paling cantik buat menyebut perempuan: gambarannya seperti muda, ranum, dan bersemangat. Gula Batu: bahan pemanis alami yang memang manis dari janin; sangat manis; manis; begitulah.
Tapi kata apa yang bisa menggambarkan adam sepertimu? Yang senada Gadis, dan sejajar Gula Batu. Yang memang kau muda, ranum dan bersemangat. Yang memang manis tapi beringas. Ya, adam sepertimu. Saya bingung: sungguh. Apa kata yang bisa membuat mukamu bersemu memerah tapi tetap gagah. Ya seperti kau sekarang ini.
Sepertinya kata itu hanya bisa terwakilkan di imajiku. Tidak bisa terungkapkan. Kalau boleh, aku juga akan memanggilmu Gadis Gula Batu. Tak apa kau setara Gadis, Kau Gula, tapi juga Batu: Gadis Gula Batu.
Karena kau lelaki Gadis Gula Batu. Ah! Buntu!
*Renault Chaniago, kata katamu saya pinjam. Brilian!
Senin, 06 Juni 2011
Senja Berpelangi
Kau masih ingat Matahari,
surat yang aku bilang "tidak pernah terkirim"
Kali ini aku bulatkan untuk mengirimnya
: ke bawah bantal
Surat itu kuwangikan senyummu
Kuhiasi parau suaramu
Kupendam jauh di bawah bantal.
Bukan untuk menimbunmu dengan berbagai mimpi
Tapi ingin merangsekkan pucukmu ke dalamnya
Surat itu kian hari bertambah padat
Kusesaki dengan kalimat puja puji tentangmu
Dari pagi, siang, senja, malam, pagi
Sampai senja lagi yang berpelangi.
Kuingat sore itu kau mendungi aku
dengan selaksa murung
setelah kita dihujani sangka sangka buruk
pada kita sendiri
Aku berusaha bicara
cari setitik baik
dan berbagai pembelaan
tapi kau tidak percaya
Apalagi yang bisa kulakukan
pada hujan yang semakin deras
aku pikir aku hanya butuh diam
Hujan hampir tidak pernah berbohong
Kecuali waktu tiga malam lalu saat reda,
malah awan hitam yang menutupi
Reda memang harus ditunggu, dinanti
hingga datang pelangi
itu Tuhan, dan hujan punya janji
Surat itu kugambari Pelangi
Rabu, 20 April 2011
Sekalipun Saya bersanggul, Kau Tak Akan Tau
Hari ini saya lihat anak anak seumuran Sekolah Dasar bersolek dari pagi buta pakai kemben. Kebaya warna warni. Sanggul rupa bentuk. Hias hias wajah. Selop dan kelom hiasi kaki mereka. Ramai sorak sorai di jalan raya.
Betapa dari kecil mereka diajarkan untuk mengenali budaya.
Kartini, dari Jawa yang sedang berlimpah puja hari ini.
Dielu sebagai pembuka rantai kaki wanita yang konon sedari pagi terikat di kaki rak piring belakang rumah. Sosok yang konon paling lantang teriakkan emansipasi wanita.
Tapi hari ini pulalah saya merindu Khadijah. Wanita yang tidak pernah kita peringati hari lahirnya, tapi menjadi bagian dari sejarah dunia. Wanita yang ada di belakang Muhammad, suaminya. Seorang karir yang tak lupa fitrahnya sebagai seorang wanita. Dan sekaligus seorang istri.
Khadijah dijejali ke otak saya, jauh sebelum saya kenal kebaya: kenal Kartini.
Saya ingat ketika TPA (setara pendidikan anak usia dini, berbasis agama), saya diajarkan bernyanyi:
...
Nabimu.... prok prok prok!
Muhammad.
Istrinya.... prok prok prok!
Khadijah.
dan juga.... prok prok prok!
Siti Aisyah.
...
Khadijah berhasil menginspirasi saya. Mendoktrin bahwa sebenarnya wanita juga bisa menghidupi dirinya sendiri. Sekaligus mengingatkan meskipun begitu, wanita tetaplah makmum seorang ikhwan. Jauh lebih dulu dari apa yang baru kau lakukan. Dan lebih arif [jika saja wanita terkini tidak menginterpretasikan perjuanganmu se-bablas kini]
Dan Kartini, sekalipun saya bersanggul hari ini, orang orang tak akan tau.
Karena Khadijah mencontohkan saya berhijab.
Jumat, 18 Maret 2011
Ketika Berdua Bertelanjang Kaki
Hari itu Jumat, kita masih saja berlaga tidak saling kenal
Layaknya dua anak kecil yang diprovokasi orangtuanya yang bermusuhan
Aku suka batik hijaumu, baru
(mungkin juga sudah pernah kau pakai sebelumnya, aku tidak tau. Sebab dari kemarin lusa kita pura pura tak saling tau)
Sama kita pakai batik, yang lain juga
Punyaku merah disambangi hitam di sulir sulirnya
Kau hijau, sarimbit
Aku rasa aku bisa membayangkan batik untuk yang wanita
Dari dulu aku benci melihat hijau dan merah berpeluk dalam satu ruang
Begitu juga kata roda warna
Ah, hijau dan merah tidak mahromnya
Pun kita
Aku menyesali batik kita komplementer [?]
Sudah lah.... (aku mencoba menghibur diri)
Itu hanya batik
Aku angkat sedikit rok batikku
untuk membuka jalan pada kedua kakiku yang telanjang
Berjalan ke arahmu (sebenarnya ke arah pintu, tapi di situ ada kau)
Aku liat kau juga tergesa menuju pintu
Kakimu telanjang juga
Kedua kaki kita sama polosnya
menapak dingin dingin ubin
meraba debu debu sisa sepatu orang
hanya kaki kita yang telanjang
hanya kaki kita yang pasrah
hanya kaki kita yang jujur
hanya kaki kita yang berdebu
hanya kita yang pura pura dungu
