Senin, 11 Juli 2011

Selamat Pagi Bapak

Tadi, aku duluan lho yang bangun. Masih manis, sisa gurau kita kemarin sore. Satu yang bikin saya tergelitik, katamu: kalau sudah pensiun, Bapak mau buka gerobak nasi goreng. Ah Bapak, lha wong mie goreng instan merk baru yang aku belikan saja kau kuahi. Tapi kemudian kuyu. Tak bisa membayangkan kau pensiun. Saya rasa saya belum dan tidak mau membayangkan itu. Kita sudah sama sama tua ya Pak. Bedanya saya masih suka main di mall.


Kenapa ketika bercerita, tawa dan tangis itu beda tipis ya Pak? Saat saya mendengar ceritamu, saya tertawa sampai menangis dan menangis sambil tertawa. Kopi kita sampai dingin Pak, keasyikan bercerita. Berkerak dan bernoda.


Iya Pak,, cerita waktu kau melamar Ibu. Itu.... hahahahahaaa... kau suguhkan begitu renyahnya. Ketika itu kau baru lulus, Ibu nanti menyusul. Kau kumpulkan uang hasil kerja kontrakmu, tapi masih belum tau mau buat apa. Setelah Ibu lulus dan yakin kalau uang itu untuk melamarnya, kau malah memakainya untuk menguliahkan adikmu. Ibu ungu! Ahaha,, wajah ibu benar ungu. Ungu! Tapi bukan Bapak namanya kalau gak pandai merayu. Entah pakai ilmu apa, kau berhasil meyakinkan Ibu untuk menunggu. Kau janjikan bunga anggrek: Ungu. Demi kau Bu, kalau ada yang memberiku anggrek ungu, akan kusuruh dia berenang sampai Tidung!


Akhirnya, jadi juga kau melamar Ibu. Beradu pandang pada Mbah si Kakek sinis. Lagi lagi ilmu apa Pak? Dari siapa? Kau bisa meyakinkan Mbah kalau anak perempuan satu satunya itu bakal aman di tangan bujang sepertimu. Ah, saya yakin Mbah cuma malas main catur denganmu. Maka dia lepas anaknya dengan Qur'an, mukena, seperangkat bedak dan gincu.


Saya bilang: Ibu kau guna guna Pak? Dia langsung meniup tangannya dan membuat belahan di rambutnya: Ibu itu naksir berat sama saya, paling ganteng se-aliyah. Dilihat dari garis mukanya, sedikit banyak saya percaya. Gincu yang kau berikan sebagai iringan mahar tempo hari sudah tak tau ada di mana. Tapi bibir ibu masih tetap saja merah: delima.


Jelas seperti menonton film, aku bayangkan kau 25-30 tahunan yang lalu. Tapi aku tidak bisa bayangkan kau pensiun, Pak. Kau akan bercerita tentang 30-45 tahun lalu. Tentang kau dapat sepatu hanyut di pinggir pantai biru. Jangan pensiun dulu lha Pak,, saya janji akan mengenalkanmu pada si Pembawa Anggrek Ungu. Tapi nanti, kucari dulu.

Rabu, 06 Juli 2011

Tentang Bulan Tujuh



Hari ini hari ke enam Juli tapi sudah ribuan yang terjadi: ratusan untuk agenda kerja yang selaras, ratusan untuk perjalanan sederhana tiap hari, ratusan untuk mimpi yang satu malam saja bisa terpartisi berkali kali, dan sisanya untuk selaksa indah yang tidak sengaja kau titipkan di satu hari antara tanggal satu ke tanggal enam Juli.


Saya sangat setuju kalau manusia dicipta Tuhan bukan sebagai makhluk tau segala. Kau jadi tidak perlu tau apa yang saya rasakan, meski saya lima sentimeter saja disampingmu. Pun saya, terhadapmu. Saya suka menebak, saya suka menerka, meski kadang tebakan dan terkaan saya meleset. Saya hanya mau main tebak tebakan.


Kau tau, kadang menebak hatimu itu membuat saya senyum senyum sendiri. Apalagi menebak hati saya, makin seru jadinya karena saya bebas memberi warna pada berbagai kemungkinan: makin gila imajinasi saya!


Bulan bulan sebelumnya tidak begini, saudara. Biasa. Kau ya kau dengan berbagai keseruan hidup, saya ya saya dengan beragam cerita. Kita punya masing masing satu blocknote untuk kita gambari pelangi. Tapi ini Bulan tujuh, pelangi yang kau gambar di blocknote-mu nyasar ke blocknote-ku. Biru, ungu tanpa kelabu: kesengsem aku.


Jadi makin sering saya main tebak tebakan tentang saya, tentang kamu. Biar saya bikin cerita saya sendiri, kemudian minta acc ke Tuhan. Semoga Beliau tidak berkeberatan.

Senin, 04 Juli 2011

Gadis Gula Batu


Ah kata... Kau bisa begitu menusuk pada hati, begitu berkesan, begitu anggun

Tapi kadang kau tidak bisa melukiskan sesuatu: buntu. Seperti, seorang teman pernah menyebut gadis pujaannya sebagai Gadis Gula Batu. SEMPURNA! Kalau saya yang jadi wanita itu, betapa pipi saya tidak sempat pucat. Gadis,, diksi paling cantik buat menyebut perempuan: gambarannya seperti muda, ranum, dan bersemangat. Gula Batu: bahan pemanis alami yang memang manis dari janin; sangat manis; manis; begitulah.


Tapi kata apa yang bisa menggambarkan adam sepertimu? Yang senada Gadis, dan sejajar Gula Batu. Yang memang kau muda, ranum dan bersemangat. Yang memang manis tapi beringas. Ya, adam sepertimu. Saya bingung: sungguh. Apa kata yang bisa membuat mukamu bersemu memerah tapi tetap gagah. Ya seperti kau sekarang ini.


Sepertinya kata itu hanya bisa terwakilkan di imajiku. Tidak bisa terungkapkan. Kalau boleh, aku juga akan memanggilmu Gadis Gula Batu. Tak apa kau setara Gadis, Kau Gula, tapi juga Batu: Gadis Gula Batu.


Karena kau lelaki Gadis Gula Batu. Ah! Buntu!



*Renault Chaniago, kata katamu saya pinjam. Brilian!

Senin, 06 Juni 2011

Senja Berpelangi


Kau masih ingat Matahari,

surat yang aku bilang "tidak pernah terkirim"

Kali ini aku bulatkan untuk mengirimnya

: ke bawah bantal


Surat itu kuwangikan senyummu

Kuhiasi parau suaramu

Kupendam jauh di bawah bantal.

Bukan untuk menimbunmu dengan berbagai mimpi

Tapi ingin merangsekkan pucukmu ke dalamnya


Surat itu kian hari bertambah padat

Kusesaki dengan kalimat puja puji tentangmu

Dari pagi, siang, senja, malam, pagi

Sampai senja lagi yang berpelangi.


Kuingat sore itu kau mendungi aku

dengan selaksa murung

setelah kita dihujani sangka sangka buruk

pada kita sendiri


Aku berusaha bicara

cari setitik baik

dan berbagai pembelaan

tapi kau tidak percaya


Apalagi yang bisa kulakukan

pada hujan yang semakin deras

aku pikir aku hanya butuh diam


Hujan hampir tidak pernah berbohong

Kecuali waktu tiga malam lalu saat reda,

malah awan hitam yang menutupi


Reda memang harus ditunggu, dinanti

hingga datang pelangi

itu Tuhan, dan hujan punya janji


Surat itu kugambari Pelangi

Rabu, 20 April 2011

Sekalipun Saya bersanggul, Kau Tak Akan Tau

Hari ini saya lihat anak anak seumuran Sekolah Dasar bersolek dari pagi buta pakai kemben. Kebaya warna warni. Sanggul rupa bentuk. Hias hias wajah. Selop dan kelom hiasi kaki mereka. Ramai sorak sorai di jalan raya.


Betapa dari kecil mereka diajarkan untuk mengenali budaya.

Kartini, dari Jawa yang sedang berlimpah puja hari ini.

Dielu sebagai pembuka rantai kaki wanita yang konon sedari pagi terikat di kaki rak piring belakang rumah. Sosok yang konon paling lantang teriakkan emansipasi wanita.


Tapi hari ini pulalah saya merindu Khadijah. Wanita yang tidak pernah kita peringati hari lahirnya, tapi menjadi bagian dari sejarah dunia. Wanita yang ada di belakang Muhammad, suaminya. Seorang karir yang tak lupa fitrahnya sebagai seorang wanita. Dan sekaligus seorang istri.


Khadijah dijejali ke otak saya, jauh sebelum saya kenal kebaya: kenal Kartini.

Saya ingat ketika TPA (setara pendidikan anak usia dini, berbasis agama), saya diajarkan bernyanyi:


...

Nabimu.... prok prok prok!

Muhammad.

Istrinya.... prok prok prok!

Khadijah.

dan juga.... prok prok prok!

Siti Aisyah.

...


Khadijah berhasil menginspirasi saya. Mendoktrin bahwa sebenarnya wanita juga bisa menghidupi dirinya sendiri. Sekaligus mengingatkan meskipun begitu, wanita tetaplah makmum seorang ikhwan. Jauh lebih dulu dari apa yang baru kau lakukan. Dan lebih arif [jika saja wanita terkini tidak menginterpretasikan perjuanganmu se-bablas kini]


Dan Kartini, sekalipun saya bersanggul hari ini, orang orang tak akan tau.

Karena Khadijah mencontohkan saya berhijab.

Jumat, 18 Maret 2011

Ketika Berdua Bertelanjang Kaki


Hari itu Jumat, kita masih saja berlaga tidak saling kenal

Layaknya dua anak kecil yang diprovokasi orangtuanya yang bermusuhan

Aku suka batik hijaumu, baru

(mungkin juga sudah pernah kau pakai sebelumnya, aku tidak tau. Sebab dari kemarin lusa kita pura pura tak saling tau)


Sama kita pakai batik, yang lain juga

Punyaku merah disambangi hitam di sulir sulirnya

Kau hijau, sarimbit

Aku rasa aku bisa membayangkan batik untuk yang wanita


Dari dulu aku benci melihat hijau dan merah berpeluk dalam satu ruang

Begitu juga kata roda warna

Ah, hijau dan merah tidak mahromnya

Pun kita


Aku menyesali batik kita komplementer [?]

Sudah lah.... (aku mencoba menghibur diri)

Itu hanya batik


Aku angkat sedikit rok batikku

untuk membuka jalan pada kedua kakiku yang telanjang

Berjalan ke arahmu (sebenarnya ke arah pintu, tapi di situ ada kau)

Aku liat kau juga tergesa menuju pintu

Kakimu telanjang juga


Kedua kaki kita sama polosnya

menapak dingin dingin ubin

meraba debu debu sisa sepatu orang

hanya kaki kita yang telanjang


hanya kaki kita yang pasrah


hanya kaki kita yang jujur


hanya kaki kita yang berdebu


hanya kita yang pura pura dungu

Kamis, 03 Maret 2011

Sinetronisasi Sekali



Dari dulu saya tidak pernah suka sinetron, pun Tersanjung yang konon sampai seri ke 6. Saya benci melihat muka penuh pada TV, padat dengan becekan airmata dan bibir dipaksa gemetaran. *saya takut ikut menangis, larut dalam penghayatan sedih sedih buatan.


Padahal saya tidak punya pengalaman "Sensasi Menonton Sinetron" tapi saya tidak ragu menyebut yang saya alami sekarang adalah sebuah sinetronisasi. *tertawa


Mengamati hiruk pikuk ruang kerja dan jalanan. Memandangi kisah kisah yang lalu lalang. Tentang teman yang bertengkar dengan pacarnya. Tentang sahabat yang masih menyimpan rasa pada mantan pacarnya. Tentang teman akrab yang setelah sekian lama menunggu kemudian pada akhirnya mendapatkan. Tentang kawan yang (rupanya) menyelinap juga pada ruang ruang patah hati. *ikut menangis


Ya, saya ikut menangis. Walau mungkin tidak sampai gerimis. Hanya meringis, tipis. Tapi saya bisa menyimpulkan ini lah "Sensasi Menonton Sinetron", walau mungkin saya masih amatiran menghayatinya.


Ah! Betapa lucunya saya.

Sabtu, 26 Februari 2011

Finally, Saya Mengenalnya


Padahal sudah 23 tahun saya mendiami tubuh ini. Sempat Sembilan bulan sepuluh hari juga di dalam tubuh lain yang serupa. Tapi saya baru mengenalnya kemarin lusa. Betapa naif!
Selama ini saya hanya tau kami hanya bagian kecil dari pria, rusuknya saja. Selama itu pula saya coba menghibur diri, meneriakkan kalau kami bisa jadi mata! jadi tangan! atau bahkan tubuh!
Saya buktikan kalau kami tak melulu duduk dipojokan sambil melukis jendela, kalau saya bisa membentuk kusen kusennya sendiri. Saya terabas adat adat yang merantai telapak kaki saya, kabur dari dogma.

Ibu, saya lihat begitu anggun ketika tangannya mengibas kemeja basah Bapak dan menggantungnya di bawah mendung. Ketika celemeknya terpecik jelantah bekas menggoreng ikan. Ketika tidurnya seperti telah melepas ransel.

Saya tidak perlu membuktikan bahwa perempuan itu kuat. Karena esensinya memang begitu. Kalau airmata bukan indikasi dari kuat lemahnya seseorang, maka saya pikir perempuan lah yang lebih kuat.


ITU! sampai situ saya mengenal perempuan.
Naif.
Padahal ada yang lebih esensi dari sekedar mengklaim kehebatan perempuan.



Perempuan
empu: hormat, kehormatan
Per-empu-an: resapilah sendiri, akan lebih indah


*betapa banyak yang belum saya ketahui tentang diri saya sendiri. Betapa banyak yang perlu saya renungi. Terimakasih telah memberi pengertian berbeda pada sosok perempuan, Lelanang.




Kamis, 10 Februari 2011

Menangis [?]

Tadi siang ketika saya duduk sambil terpejam di sofa ruang tamu kantor.

Saya dengar suara sesegukan yang kemudian membangunkan saya.

Anak itu, mungkin 15 atau 16 tahun, masih kelas 2 SMA

Dari Malang, Praktik kerja di kantor saya.

Bersembunyi di balik punggung teman kerja saya yang duduk di samping saya

: menangis


Saya pikir dia kangen Bapak Ibunya di Malang.

Ternyata alasan dia menangis hanya karena satu hal sepele menurut saya

Dia putus cinta dengan kekasihnya.


Ya, saya bilang sepele buat saya.

Karena itu sama sekali bukan saya yang merasakan.

Saya tidak dapat imbas atau dampak apapun dari kerunyaman kisahnya.


Saya tidak komentar ketika dia sambil terpatah patah

mengatakan sebab dia menangis

[terus terang, kalau saya boleh berkomentar dan kalau orang orang tidak tersinggung dengan komentar saya, saya ingin sekali bilang:

apa yang kau tangisi? alasanmu menangis kali ini sangat aneh!]


Betapa tidak, menangis hanya karena putus cinta di umur yang baru 16an.

Apa yang bisa dia jadikan alasan kuat untuk menangis?

CInta? Ah rasanya terlalu dini bicara cinta di kondisi psikologis yang masih labil.


Maaf ya anak muda, kalau kau berpendapat saya tidak punya perasaan.

Saya juga pernah mengalami usia 16 dan juga mengalami hal yang sama.

Saya juga pernah menangis, malah lebih basah darimu.

Dengan alasan yang sama sepertimu. Sama persis.


Entah kenapa setelah sekarang saya duapuluhtiga, saya merasa tangisan saya tujuh tahun yang lalu itu bodoh. Sangat bodoh.

Apa yang ada dibenak saya tentang cinta 16 tahun?

Romantisme masa kanak kanak yang terlalu naif jika terlalu beradu dengan perasaan.

Kecuali saat umur segitu saya sudah dikawinkan, wajar kalau saya bicara tentang cinta dan mungkin menangisinya.


Duapuluhtigapun saya pernah menangis, meskipun tidak sesengukan seperti dulu.

Saya merasa sayang melunturkan air mata hanya karena pria [dalam hal ini, cinta]

Sebelum saya benar benar punya alasan logis untuk menangis, saya enggan.

Sampai pada saatnya pun saya menangis di duapuluhtiga

Mungkin Ibu yang akan berujar:



Tangisanmu BODOH!





*mungkin karena Ibu sudah matang dalam urusan cinta. Sudah bisa memilah mana yang penting dan tidak penting untuk ditangisi.

Dari situ saya menarik simpulan, semakin kita melihat ke belakang, semakin cinta seperti yang sedang kita bicarakan ini adalah anak tangga yang di bawah, lupakan saja.



[tapi saya maklum tangismu tadi, anak muda. saya juga pernah begitu. Jangan khawatir]

Sabtu, 05 Februari 2011

Minggu, 23 Januari 2011

Kalau Ngambek, Jangan Begitu

Matahari, lagi lagi kau buat aku emosi.
Pada hari yang terik menguliti raga.
Pada senja yang terlalu cepat tiba.

Waktu kita sempit, Matahari.
Untuk bicara di pinggir kolam ikan buatan
dan melayang pada latar cerita yang kita karang sendiri.

Tapi anehnya kita sangat menikmati
tiap cerita yang rekayasa.
Kita tertawa sejadinya
Menangis layaknya nyata.

Sekali aku ingatkan padamu,
ini tidak ada untungnya.
Berdua mendustakan cerita.
Bohong bohong saja.

Kamu langsung pergi
Meninggalkan sepatumu di tepi kolam.
Meninggalkan aku yang belum sempat
memberi terang pada maksudku.

Matahari, aku bukan benci ritual kita bercerita
Bukan bosan dengan cerita yang itu itu saja.
Tapi aku benci berdusta.
Kenapa tak kita ubah cerita ini jadi nyata.
Agar kelak yang nyata bisa kita jadikan sejarah.
Dan bisa kembali kita ceritakan
pada pinggir kolam yang bukan buatan.

Jangan begitu, Matahari.
Dengar dulu aku berjanji.


-PN-

Rabu, 05 Januari 2011

Timbul, Diam, dan Tenggelam

Apa yang bisa saya simpulkan dari dua jam pertemuan kita di ujung Tidung pagi itu?
Dari subuh menggoes sepeda ontel karat ke tepi pantai berpagar pohon Ketapang yang angkuh, sombong tak membalas goyangan empas angin.
Matamu menunjuk langit yang melukis aurora. Bentukan warna sesukanya, tapi manis. Saat matahari menoreh sinar kekuningan. Mula mula mengintip dari ujung laut dan membelalak. Mata kita kalah.
Tangan saya iseng mengambil buah ketapang yang rontok, layu di atas pasir basah. Tanpa arah, saya lempar ke tengah lautan. Sama sekali bukan bermaksud melempari matahari. Tanganmu juga sama-maksud kita juga sama.


Lombok itu indah 'Nduk.
Kau memulai drama kita.
Ya... meskipun di sini juga indah.

Mbah pernah ke sana?

Saya pernah menetap di Nusa Tenggara. Saya memuji Lombok seadanya saja. Tapi ya itu adanya: bagus.
Kapan kapan boleh lha ke sana.

Kita masih ada saudara yang menetap di sana, Mbah?

Sepertinya sudah semua pindah.
Tapi jangan ragu untuk mampir ke sana, Nduk. Nanti kita buat ronce cangkang kerang untuk tirai kamarmu. Atau cuma menghabiskan waktu seperti pagi ini. Menatap matahari.

Lombok di mana sih Mbah? Kalo mau kesana, bisa jalan kaki?

Jauh, Nduk. Nanti besar sedikit juga kamu tau.

Terus kita ke sananya gimana, Mbah?
Bisa pake perahunya Mamak?

Gak bisa, harus pakai perahu besar atau pakai kapal terbang.

Kapal terbang, Mbah? Aku kan gak punya uang.

Nanti juga punya.



Apa artinya percakapan kita yang ditonton matahari pagi?
Saya sudah punya uang. Lalu kapan kita ke Lombok?
Egois, kau pergi duluan. Sudah punya Lombok sendiri.
Mana janji kita meronce kerang?
Kapan pagi kita bisa duduk seperti ini di Gili Trawangan?

Demi Lombok dan kerang yang hendak kita ronce jadi sebuah tirai.
Rasanya ingin saya tagih janjimu besok pagi.
Ke Lombok, kita akan mandi.
Saya sesungutan kalau kau tidak datang.

Tapi pagi tetap saja pagi. Meskipun kau sudah pergi, Mbah. Pagi tetap pagi.
Saya tetap mandi.

Pagi, Idul Fitri kemarin. Saya kembangi pasirmu.
Pinggir Tidung.
Saya bisiki janji kita, tapi tanpa sesungutan.

Sebenarnya saya tidak perlu ke Lombok.
Tidung saja sudah cukup, untuk membayangkan Lombok tergambar di atas air laut.

Saya kangen Mbah.





*untuk Bapaktua Amien, di surga.

Selasa, 21 Desember 2010

Teruntuk Anak Kesayangan Emak

Anak Kesayangan Emak itu pernah membuat sebuah post pada blognya tentang blog saya. Saya rasa tidak berlebihan kalau post saya kali ini saya persembahkan untuk dia.

Kalau Emak masih di sini, pangkuannya pasti basah airmata: airmata Anak Jagoan Emak. Tentang rindu yang berkecamuk, tentang sesal yang mengamuk, tentang hati hati yang remuk. *dan pasti pipi Emak ikut basah juga.

Itu anakmu 'Mak, yang mengaku jagoan, jatuh limbung belakangan ini. Tentang Nona yang tidak seksama membaca blognya. Tentang rusuk yang tidak menemui[tuan]nya.
Dia jagoan, akunya. Saya percaya. Tapi Gatot Kaca juga menyimpan tissue dilipatan kainnya. Saya percaya.

Dia pernah bilang pada saya: Jatuh cinta itu biasa, remuk juga biasa.
Tapi saya tau 'Mak, dia mencoba untuk terbiasa.

Saya menawarkan tissue padanya, dia menolak.
Dia bilang dia sudah punya, sisa makan Magnum kemarin.
Saya menawarkan telinga untuk mendengar, dia bilang tidak perlu.
Dia sudah membawa pensil dan kertas.
Saya menawarkan sebidang bahu, dia tertawa lepas.
"mana kuat bahumu, anak kecil."

Akhirnya saya menawarkan diri untuk pulang.
Dia setuju.
Dia bilang dia jagoan. Saya setuju.

Anakmu sombong, Emak. Tapi wajar, dia jagoan.
Saya baru kenal beberapa waktu dengan jagoanmu 'Mak, tapi sudah belajar banyak.
*mudah mudahan dia tidak menagih uang les atas pembelajaran yang diam diam dia sematkan pada ujung kening saya.
Bahkan saat dia remuk, saya masih tega menyadap ilmu ikhlas darinya. [Juga dari Nona yang membuatnya remuk]

Tentang roman yang kami anggap norak. Tentang cinta yang tidak ubahnya sarapan, berlangsung begitu hampir setiap pagi. Tentang asmara layaknya kereta, bergulir hanya pada lajurnya. Semua biasa.

Saya tidak ragu meninggalkan dia pulang. Dia sudah jagoan sebelum saya datang. [bahkan sebelum Nona menyerang].

Anak Emak yang Jagoan, saya bisa bilang apa lagi?
Mau menyuruhmu sabar, kau sudah khatam. Mau memintamu ikhlas, kau sudah duluan. Mau menyemangatimu agar kuat, kepalanmu lebih bulat.

Kamis, 16 Desember 2010

Randu

Ribuan tulisan bisa saya buat
Hanya dalam hitungan menit
Kalimat mengalir
Walau hanya berakhir
jadi sebuah prosa

Tiap tiap yang dia lakukan
Mampu saya lukis sempurna
Pada sebuah kata

Saya berbuah

N [sebut saja begitu, seperti guru matematika menggunakan huruf n sebagai ganti titik titik]
sepenuhnya memonopoli otak
Dan membudaki jari jari
: untuk membuat puisi

Setumpuk romansa
yang kemudian semu
Hilang saja layaknya abu


Tapi Anda
Saya memanggilmu Randu
Tidak mampu menyeret saya
Sekalipun
Untuk membuat sebuah puisi
atau hanya sekedar prosa


Entah apa yang terjadi
Saya tidak bisa menafsirkan
Jadi novel, cerpen, puisi,
bahkan hanya jadi sekedar senandung


Saya tidak bisa menguraikan
Sedikitpun dari apa apa yang telah kita lewati
Anda tak terjabarkan

Atau memang saya sudah kehabisan kata
untuk bisa mendeskripsikan Anda.
Saya jadi miskin kata!

Sabtu, 04 Desember 2010

Dan, Ibu

Pagi itu saya masih tidur

[beralasan karena seminggu kemarin lembur]

Saya intip Ibu dari celah mata yang menyipit

Ibu sibuk.


Ibu membawa solatip hitam dan gunting

Berjalan tergesa

Ibu membetulkan gagang pel

yang patah lehernya


Saya masih pura pura tidur


Kemudian Ibu membawa tang dan obeng

Berjalan tergesa

Ibu membetulkan kompor minyak tanah

yang sumbunya tenggelam di tabung besi porosnya


Saya masih pura pura


Lalu Ibu membawa kawat dan tali rapia

Berjalan tergesa

Ibu membetulkan jemuran besi

yang patah tengahnya


Saya tidak tidur, tapi pura pura


Ibu tidak membawa apa apa

Sama sekali tidak tergesa

Mengharum, kamar saya yang sedari tadi apak: bau dosa

Ibu membetulkan selimut tidur saya


Saya bertelaga, pada sudut mata yang menyipit

Pada mata yang masih pura pura

[sedang, Ibu betapa jujurnya]

Sabtu, 27 November 2010

Get Well Soon: Bromo




Lenglang lenglang langitna

Bodas bodas megana
Bulet bulet bulana
Kucap kecip bentangna...
Marabak hejona Gunung Bromo
Tengah Jawa....


Kamu kenapa latah Bromo?
Ikut batuk batuk
Mencuri perhatian
Kamu reseh Bromo...
[Saya kesal]

Rona keabuan di sekujur tubuhmu
Semakin mengabu, abu abu

Kemarin lusa seorang teman dengan mata berkaca kaca
bilang pada saya:
Poetry... Kita ke Bromo ya!
Ya.. Bromo saja!
Bener ya, bulan tiga kita ke sana!

Ya..
Jawab saya dalam hati, karena tidak tau apakah awal tahun nanti
saya tidak punya janji keliling dunia dengan Arjuna.
Saya tidak bisa janji.
Tapi saya juga menyimpan rasa pada Bromo,
Pada rona abu abunya
[maaf Arjuna]


Kemarin, saya tulis pesan singkat
Sangat singkat.
Pada teman saya:
Bromo Erupsi

*Dia tidak membalas.


Kenapa begitu Bromo?
Yakinkan saya kalau kamu hanya kedinginan
Flu ringan.

Saya tidak mau kamu sakit parah seperti Merapi
Saya mau kerumahmu Bromo.
Jangan sakit: atau pura pura sakit.

Cepat sembuh Bromo
Kita punya janji sarapan bersama
Saya rela tinggalkan Arjuna sebentar
Menunda keliling dunia
Hanya untuk mendekapmu dari dekat

Ingat Bromo,
Kita punya waktu empat atau lima bulan lagi
Saya tidak berharap salah satu dari kita ingkar janji.



Senin, 15 November 2010

Emansipasi [dan] Wanita


Tadi pagi saya berbincang lewat pesan singkat di ponsel dengan sahabat saya: Pria
Obrolan ringan saja, tidak pelik
Entah berawal dari mana, obrolan kami mengarah pada pembicaraan tentang emansipasi [wanita]



- Pria itu ya, hoby-nya nyakitin wanita. Selingkuh sana sini

+ Lha salah sendiri, wanita kenapa mau diselingkuhi

- Atas dasar emansipasi, kami [wanita] juga tidak ragu melakukan hal yang sama.
Jangan komplain ya para pria, derajat kita sejajar *meskipun tidak sama

+ Emansipasi... Bablas klambine! Astaghfirullah

- Saya bilang kan derajat kita sejajar meskipun tidak sama. Toh kelak kalau saya menikah, saya tetap sudi membasuh kaki suami saya sepulang dia bekerja. Meskipun mungkin dikantor saya, kaki saya yang dibasuh karyawan karyawan saya.

+ *belum membalas sampai postingan ini dipublikasikan*



Ya memang, emansipasi bukan berarti setiap apa yang bisa pria lakukan, boleh juga wanita lakukan.
Pernah sekali waktu saya juga menyimak note yang dibuat teman saya tentang emansipasi. Saya curi sedikit: "Katanya emansipasi wanita, giliran disuruh benerin genteng gak mau. Bilangnya,, itu kan pekerjaan pria."

Banyak pria sinis dengan emansipasi yang Kartini perjuangkan untuk wanita.
Entah mereka merasa dikangkangi atau takut kalah disaingi.
Kenapa begitu? Maksud kami emansipasi adalah keseimbangan perlakuan. Tidak adanya diskriminasi jender, itu saja. Bukan berarti kami harus bisa membetulkan atap yang bocor atas dasar emansipasi.
Seorang suami senang juga kalau istrinya bisa bekerja, tapi kami toh tidak menuntut seorang suami untuk bisa memasak.

Beberapa wanita juga saya akui telah salah tanggap tentang emansipasi. Mereka sampai lupa kewajiban kewajiban fitrah yang [harusnya] asasi dalam diri seorang wanita.
"Kebablasan..."
Terkadang benar.

Rasanya terlalu berlebihan menganggap Kartini sebagai icon emansipasi wanita. Kesejajaran sebenarnya sudah bisa kita amini sejak zaman Nabi Muhammad. Terbukti istri Beliau, Khadijah merupakan saudagar, Khadijah berkarir. Tapi Khadijah tidak lupa posisinya sebagai seorang wanita, terlebih sebagai seorang istri.

*biar begitu, saya berterimakasih juga kepada Kartini, telah memperlebar pintu emansipasi. Kalau tidak begitu, mungkin sekarang saya di rumah: menggendong anak ke lima saya sambil mengadoni tepung roti.

Yang kami inginkan bukan kesamaan perlakuan, hanya keseimbangan.
Kalian [laki-laki] juga berharap kami masih ingat kodrat kami sebagai wanita bukan? Maka hargai kami selayaknya kami ingin dihargai. Dengan begitu kami juga akan menghargai diri kami: sebagai wanita [yang asasi].


*bukan, ini bukan menanggapi SMS tentang perselingkuhan yang sedari pagi hilir mudik. Tapi lebih universal pengaplikasiannya dalam hidup sehari hari. So, Pria dan Wanita, mari saling menghargai hak dan kodrat sesama.

Selamat Pagi Matahari


Ah, saya puas
Telah mendahuluimu bangun pagi ini
Bukan saya bangun pagi pagi sekali
Tapi memang saya tidak tidur
Takut kecolongan: takut kamu lagi yang bangun lebih dulu

Saya menemukanmu di pojok pintu
Sedang menyeka mata dengan kain batik keris
Belum sempat mengunyah siwak
Matamu masih sayu
Sembap

Seperti semalaman menyaksikan pentas teater
dan berdiskusi tentang pencahayaan panggung
yang tidak seterang tatapanmu

Saya tertawa puas
Berhasil menemukanmu di pojok pintu
Kemudian melemparkan handuk
agar kau segera mandi

Kamu malah melipat handuk itu
Dan tertawa lebih keras dari tawaku

Kamu memintaku melihat ke luar
Saya melihat sekumpulan awan hitam legam
Minum teh di halaman rumahmu

Saya memandangimu lekat lekat
Kamu malah balik memandangi saya

Sebenarnya kamu sudah bangun dari tadi
Bahkan jauh sebelum saya menemukanmu di pojok pintu

Kamu menyapu wajahmu dengan batik keris
sehabis kamu mencuci muka
Kamu tidak ingin buru buru mandi
Pagi ini kamu ingin memberi kesempatan
pada Mendung untuk menampakkan diri

Saya tidak pernah bangun lebih pagi darimu, Matahari
Tidak pernah sekalipun

Katamu: biar aku yang mengucapkan
selamat pagi untukmu lebih dulu

Minggu, 07 November 2010

Menikahi Matahari

Sekali waktu, saya berbincang dengan Mbah Putri di ruang tamu rumah kami
Berbicara tentang masa muda Mbah dulu.
Mbah, menikah di umur berapa?
-18 tahun
Lalu kenapa mbah memilih Mbah Lanang sebagai pendamping?
-tidak
Lantas?
-dia yang memilih saya

[Di jaman itu, mungkin wanita hanya punya sepuluh persen saja hak untuk memilih
Dan mungkin hanya bisa digunakan untuk memilih warna kebaya]

Apa Mbah tidak punya kekasih sebelumnya?
-tidak. saya belum sempat kenal siapa siapa
Lalu Mbah sayang dengan Mbah Lanang?
-ibumu, anak kedua saya

Bagaimana Mbah bisa menikahi orang yang belum begitu mbah kenal?
-Witing tresna jalaran saka kulina
Mbah Lanang keras, kenapa Mbah betah berlama lama hidup dengan dia?
-saya ingin diumurmu yang pertama, kamu menyebut "mbah" di depan kami berdua


Witing tresna jalaran saka kulina...
Saya menerawang...

Pikiran saya sempat tertawan
Mungkin kelak saya akan menikah,
Saya hanya menikahi orang yang benar benar menyayangi saya
Perihal saya cinta atau tidak sebelumnya,,
Witing tresna jalaran saka kulina...


Mbah menikahi matahari
yang sejak subuh dia tau akan bertemu
tapi tidak pernah tau seberapa kuat sinarnya nanti
Mbah hanya mengamini
[dan kemudian belajar mengagumi]
tiap tiap inci sinarannya

Jumat, 05 November 2010

.... dan duapuluhtiga

Pertama, pasti terimakasih yang terucap
Untuk Tuhan, Ibu, Bapak, keluarga dan teman.
Untuk duapuluhtiga tahun yang luar biasa

Kepada ibu yang duapuluhtiga tahun lalu mengerang paling keras
Dan duapuluhtiga tahun ini berdiri paling lantang

Kepada Bapak yang duapuluhtiga tahun keringatnya berubah jadi daging pada saya...


Bukan tentang perayaan
Bukan tentang tingkat kedewasaan

Ini tentang rasa syukur
Pada duapuluhtiga musim yang berwarna