Sekali waktu, saya berbincang dengan Mbah Putri di ruang tamu rumah kami
Berbicara tentang masa muda Mbah dulu.
Mbah, menikah di umur berapa?
-18 tahun
Lalu kenapa mbah memilih Mbah Lanang sebagai pendamping?
-tidak
Lantas?
-dia yang memilih saya
[Di jaman itu, mungkin wanita hanya punya sepuluh persen saja hak untuk memilih
Dan mungkin hanya bisa digunakan untuk memilih warna kebaya]
Apa Mbah tidak punya kekasih sebelumnya?
-tidak. saya belum sempat kenal siapa siapa
Lalu Mbah sayang dengan Mbah Lanang?
-ibumu, anak kedua saya
Bagaimana Mbah bisa menikahi orang yang belum begitu mbah kenal?
-Witing tresna jalaran saka kulina
Mbah Lanang keras, kenapa Mbah betah berlama lama hidup dengan dia?
-saya ingin diumurmu yang pertama, kamu menyebut "mbah" di depan kami berdua
Witing tresna jalaran saka kulina...
Saya menerawang...
Pikiran saya sempat tertawan
Mungkin kelak saya akan menikah,
Saya hanya menikahi orang yang benar benar menyayangi saya
Perihal saya cinta atau tidak sebelumnya,,
Witing tresna jalaran saka kulina...
Mbah menikahi matahari
yang sejak subuh dia tau akan bertemu
tapi tidak pernah tau seberapa kuat sinarnya nanti
Mbah hanya mengamini
[dan kemudian belajar mengagumi]
tiap tiap inci sinarannya
semoga saja, semoga bisa, amien
BalasHapusDapat juga saya simpulkan, Cinta bukan bekal utama untuk membangun rumah tangga. *betul tidak saya?
BalasHapusuntuk kali ini, boleh lah aku bilang setuju.
BalasHapusTapi saya heran, meskipun dijodohkan, orang dulu lebih langgeng rumah tangganya. sedangkan yg sekarang, menggebu gebu ngomong cinta [sampe berbusa mulutnya] setelah itu.....
BalasHapusklo begitu... aku menunggu dijodohkan saja :D
BalasHapusPertanyaannya adalah: dengan siapa?
BalasHapus