Selasa, 07 September 2010

Nyuwun Ngapura Kanjeng Ibu, Kanjeng Romo, lan Panjenengan.




Kulo sowan wonten ing ngarsanipun Kanjeng Romo lan Kanjeng Ibu,
mbok bilih wonten klenta-klentunipun atur kula saklimah tuwin lampah kula satindak. Ingkang kula jarag lan mboten kula jarag, ingkang mboten ndadosaken sarjuning panggalih.







Senin, 06 September 2010

Seminggu Ini Untuk Anda, Be Es!


Seperti "merayakan" hilangnya kita berdua.

Tiap hari saia tulis nama Anda di coretan gamang pada blog saia.

[Jangan lagi merayakan, menatap saja saia masih belum berani]


Be Es! Anda menguasi blog saia minggu ini!

Ingat Be Es, tidak untuk minggu depan!


Saia tau muntahan kegamangan ini masih larut dalam Anda.

Masih belum terlepas dari remah remah wangi Anda.


Tapi saia tidak mau menunggu lama Be Es!

Hidup saia harus terus berjalan.

Saia mau mengganti kopi pahit saia yang sudah basi.

Yang saia letakkan disudut kamar.


Tapi tidak akan saia buang Be Es.

Kopi itu hanya basi, belum membusuk.

Hanya akan saia pindahkan ke dekat sarang tikus.

Agar mereka tau saia gamang waktu itu.



Hari ini masih hujan Be Es.

Tapi Anda nekat pergi.



Saia diam sambil menyeduh kopi.

*Dalam gelas yang sama, gelas kopi basi yang nodanya masih samar.



Belum Lagi Hilang Lebamku: Be Es

Bulan ini musim hujan.

Saia bisa bilang begitu karena belakangan, sering hujan.

Sesekali kita menghabiskan waktu bersama.

Bersama hujan yang menitik di ujung jari jari kita: di tepi jalan raya.


Be Es, saia rindu menghabiskan waktu bersama Anda

hanya untuk menceritakan masa kecil kita yang berbeda satu sama lain.

Saia tinggal di kota, Be Es.

Tak kenal tutut yang Anda ceritakan telah Anda bakar dan nikmati bersama teman teman Anda selepas bermain hujan di tengah sawah.


Anda ribuan kilometer dari tempat saia menghabiskan waktu duduk dikamar dan beradu pikir pada video game yang dibelikan Bapak saat kenaikan kelas.

Anda bercerita, pikiran Anda menerawang ke masa kanak kanak Anda dulu.

Anda bercerita, pikiran saia menerawang ke masa depan tentang apakah kita masih akan bercerita seakrab ini nanti.


Kita bercerita, dengan gigi gemeretak menahan dingin hujan diluar jendela ruang tamu rumahku.

Seperti dua orang renta yang sedang bertukar cerita.

Saia suguhkan secangkir kopi panas dan kita semakin liar bercerita.



Lebam ini belum hilang Be Es.

Semenjak saia putuskan untuk membencimu sampai ke sumsum tulang.

[semenjak kita berdua memutuskan untuk hilang]

Tapi gemeretak gigi kita, dan hujan yang membasahi jari jari kita waktu hujan sore itu mengibaskan semuanya.



Saia tidak mampu menipu hati saia.

Saia masih mau mendengar cerita Anda


Padahal lebam ini belum lagi hilang.

Seperti saia siap saja menerima lebam selanjutnya.


Be Es... Be Es...


Anda benar benar membuat saia gila,

Gila untuk bercerita!



Jumat, 03 September 2010

Kelangit Bersama Ikan Asin*

Baru tadi pagi saia minum segelas susu.
Tidak manis,, tapi cukup segar.
Sore ini kopi pahit.

Saia tau ini pahit.
Tapi tetap saia minum.
Saia seruput pelan dan dalam.

Mata saia menangkap tembok membentuk relief.
Cerita tentang Pariyem dan Den Bagus Ario Atmojo.
Kisah cinta beda kasta yang pernah saia baca pada buku usang di sudut kamar.
Angan saia melesat ke Suryomentaraman Ngayogyakarta.

Pariyem itu babu, Ario Atmojo, sudah jelas... Den Bagus.
Kalau mereka saling jatuh cinta, salah siapa?
Salah Ario yang dibutakan cinta?
Atau Pariyem yang tidak mengenal tingkatan kasta?

[salah saia: kenapa memikirkan siapa yang salah!]

Kopi saia mulai dingin.
Tapi tembok masih berpendar.
Mengurai cerita lain.

Sekelompok ikan asin melarikan diri dari kantung kresek hitam kumal.
Masing masing mereka membawa tali.
Ah.. ikan ikan bodoh. Kataku.
Bukankah hidup mereka akan lebih berarti jika mereka tetap dikantung.
Menanti nasi panas menyertakan mereka turun ke pangkal tenggorokan.

Ah dasar ikan keras kepala!. Kataku lagi.

Mereka malah memboyongku ikut dengan mereka.
Mereka berjajar membentuk anak tangga.
Tali yang mereka bawa, mereka pakai untuk mengait pelangi.
Saia terdesak! Terbawa ke atas.

Ikan ikan asin itu mengajak saia terbang.
Saia tidak percaya! Mereka cuma serupa kecil.

Saia kelangit.
Bersama ikan asin!




*Judul postingan ini diambil dari salah satu judul landscape pada Katalog Rupa: Dive Into, milik perupa Hanafi.

Kamis, 02 September 2010

Perang Batin

Be Es saia sakit.
Bukan sakit demam.
Bukan sakit kepala.
Bukan sakit hati juga.

Perang dalam batin saia mengakumulasi.
Menyebabkan saia sakit: mati rasa.
Saia geram tapi tidak ingin marah.
Saia kesal tapi memilih diam.
Saia senang tapi tidak terlalu yakin.


Tapi Antiklimaks.



Saia keluar dari zona aman tapi malah terperangkap dalam tempat baru yang asing.
Satu tempat di hati saia yang belum pernah saia kunjungi sebelumnya.
Tempat hati saia mati rasa.


mati


tanpa rasa



berasa



tapi mati




rasanya mati




saia sakit: Be Es
saia tidak masuk kerja hari ini

Be Es, Saia Cemburu

Pantang sebenarnya mengakui hal ini: Cemburu.
Selama ini saia cuma punya satu alasan untuk cemburu.
Saia cemburu pada Bapak, yang punya istri sebaik dan secantik Ibu.

Tapi hari ini saia cemburu.
Saia mencemburui Anda: Be Es.
Saia cemburu pada Anda atas wanita yang menyesalkan kepergian Anda ke Luar Kota tanpa pamit padanya.
Wanita itu berkata [saia rasa dengan nada manja], "Ih... Kok ke Cianjur gak bilang bilang???"
Sedangkan saia hanya bisa bicara [tanpa nada, saia rasa] "Hati hati di jalan."
*saia kurang bisa merengek, jadi maaf.

Saia juga iri pada Anda.
Anda bisa tenang menghadapi saia, yang bahkan, saia kewalahan menanggapi sikap saia sendiri.
Saia rikuh sendiri. Kikuk.

Bahkan saat wanita itu tadi mampir ke ruangan kita. Ehm.. Ruangan Anda, maksud saia.
Saia berusaha untuk tidak peduli [hanya untuk menyelamatkan kegalauan hati saia].
Tapi tetap saja saia tau dia ada di ruangan kita. Ehm.. Ruangan Anda, maksud saia.

Saia iri pada monitor Mac Anda, yang Anda pandangi setiap hari.
Saia iri pada headset Anda yang tiap hari meracau tapi Anda dengarkan.
Saia iri pada tiket mudik Anda yang Anda jaga dengan seksama.
Saia iri pada tas ransel Anda yang tiap hari melingkupi Anda
Bahkan saia iri pada dispenser di sebelah meja kerja Anda!
yang bisa mengintip Anda bekerja setiap hari.

Saia cemburu pada Anda Be Es.
Pada tiap tiap pemikiran Anda yang sederhana.

Saia tidak ingin berpikir terlalu kompleks tentang Anda.
Tapi Anda labirin: memaksa saia berpikir lebih dalam.

Besok akan saia buatkan Anda puding cokelat.
Agar dispenser di sebelah Anda iri: hanya bisa mengintip dari balik meja kerja Anda.

Rabu, 01 September 2010

Jangan Hakimi Otak Saia: Be Es

"Tidak ada masalah dengan kamu.
Jangan terlalu berlebihan menanggapi ini semua.
Aku tidak apa apa."

Tiap hari saia dijejali kalimat kalimat mengambang seperti itu.
Tidak ada masalah dengan saia, tapi saia merasa terintimidasi.
Otak saia, Anda hakimi!
Sarang laba laba menebal di tepi tepinya
Pertanda saia tak mampu lagi menganalisa sikap Anda.

Saia ingin menyerah saja.
Tapi saia kadung sombong, sesumbar pada Anda kalau saia wanita hebat.

Sudah saia bilang kalau saia bukan paranormal,
Bisa membaca pikiran orang.

Tinggal bilang salah saia apa.
Tinggal minta, Anda maunya saia gimana.

Ingin menambahkan satu sarang lagi di otak saia???


Sabtu, 21 Agustus 2010

Meranggas Karena Keadaan

Saia rasa kita pernah membahas ini sebelumnya.
Jauh sebelum saia menyadari hal ini akan terjadi.
Anda bilang ini konsekuensi yang harus kita tanggung.

Pernah juga sekali waktu Anda bertanya pada saia:
Apa kamu siap dengan keadaan ini?
Apa kamu siap menutup telingamu atas pembicaraan orang orang di sekeliling yang tertuju pada kita?

Saia balik bertanya:
Apa kamu juga siap?

Aku sudah biasa dengan situasi di sini.
Aku sudah cukup mengenal keadaan.
Aku justru mengkhawatirkan kamu, yang baru masuk dalam lingkungan ini.
:: Kata Anda.

Kalimat Anda secara tidak langsung memaksa saia untuk berdaptasi,
membiasakan diri dengan keadaan.
Saia rasa saia berhasil!

Semua yang dipertanyakan orang orang tentang kita saia masukkan ke kuping kanan, tak lama saia keluarkan lewat kuping kanan juga [bahkan satu kata pun tak sempat menyentuh gendang telinga saia!]

Saia bingung kenapa sekarang jadi Anda yang rapuh?
Padahal dulu Anda yang bilang siap dengan apa saja yang bakal terjadi.

Jangan paksa saia berpikir macam macam tentang ini semua.

Mari kembali tertawa,,
Saia tidak mau Anda lemah.

Itu kan yang tiap hari Anda jejalkan ke kepala saia?!

Apa kabar Gundalaku [?]

Hari ini kamu terlihat berbeda.
Maaf, bukan hari ini saja, tapi sejak kemarin.
Saia tidak tau apa penyebabnya.
Bukan saia tidak mau tau, tapi saia takut Anda tidak mau memberi tau.
Saia biarkan nanti tau tau, saia tau sendiri.

Maaf Gundalaku...
Saia tau Anda risih.
Saia juga mengalaminya.
Tapi saia belum mendapatkan jalan keluar untuk keadaan ini.

Saia bukan meragukan Anda: Gundalaku.
Tapi saia butuh banyak waktu untuk mencerna semua satu persatu.

Maaf Gundalaku...
Saia asing dengan perubahan Anda.
Saia ingin biasa saja, seperti kemarin lusa:
Menikmati senyum Anda dari kejauhan
dan menyimpannya di dalam ransel saia
sebagai teman minum kopi sepulang saia bekerja


Jangan lagi gundah, Gundalaku

Minggu, 18 Juli 2010

Surat untuk Mataharijamtujuhpagi

Pertengahan April 2010

kepada: Mataharijamtujuhpagi

dengan hormat,
surat ini mungkin sangat mengejutkan, karena ditulis oleh saia dan ditujukan untuk anda. semoga anda tidak sampai hati untuk membuang surat ini ke selokan di jalan raya atau hanya menyimpannya di laci meja kerja anda.

tadi saia melihat Anda, kemarin juga, saia berharap besok juga masih bisa. ah! saia tidak pandai berbasa basi. saia ingin segera memuntahkan apa yang selama ini menjejal di kepala [juga di tenggorokan saia].

saia tau ini tidak biasa, apalagi bagi saia [mungkin juga bagi anda]. baik, saia akan mulai sekarang. saia berantakan. saia tidak bisa mengatur napas saia setiap kali anda lewat di depan meja kerja saia. saia bingung. saia linglung. bukan karena saia jatuh cinta pada anda [atau mungkin belum]. ternyata saia kagum dan menaruh hormat pada anda.

justru karena karena rasa hormat saia pada anda saia jadi makin bingung. mau diapakan perasaan saia.

bagi saia diam adalah jawaban sementara atas pertanyaan pertanyaan yang selama ini berdesakan dari alam bawah sadar saia tentang apa yang sebenarnya sedang saia derita. tapi kelamaan, diam malah jadi bumerang buat saia. saia semakin linglung.

saia tau setelah mambaca tulisan ini [dan mungkin juga berusaha mencernanya], anda jadi ikut bingung. saia tau anda langsung ingin membuang tulisan ini sejadi jadinya dari pada anda semakin linglung.

saia tau anda juga ingin berkata: “rasanya tidak pantas seorang wanita menulis ini”

saia hanya ingin bicara. karena diam menyiksa saia.

saia harap, besok pukul delapan, keadaan kembali seperti semula. saia harus mengerjakan cover yang deadline seminggu ke depan.



[surat ini tidak pernah dikirimkan]

Jumat, 16 Juli 2010

. d . r . e . a . m . i . n . g . o . f . . . .

seandainya...
kelak setiap tengah malam bisa bertahajud bersamamu.
bisa setiap subuh jadi makmummu.

tiap pagi saia bangunkan kamu dengan secangkir kopi.
pahit.
seperti permintaanmu.
dan pisang goreng *jika aku tidak sempat membuat nasi goreng.

sebelum berangkat kerja, aku sempatkan merapikan kerah kemeja coklatmu.
iya, kita tidak berangkat bersama.
kita beda kantor.
aku masih dikantor kita yang dulu.

tiap tengah hari kau menelpon.
menanyakan kabar anak2 kita: Fikri dan Khumairah.
sebelumnya aku sudah lebih dahulu menelpon ke rumah.
anak2 kita sedang bermain lego.

kemudian sore harinya kamu menjemput aku dikantorku.
dijalan, kamu bercerita tentang job desain yang menumpuk.
aku cuma bercerita, sepanjang siang tadi mati lampu.

tiap kita pulang, anak anak bersorak.
mereka sudah mengenakan sarung dan mukena.
tak sabar shalat maghrib dengan kita.

*sesekali kita memboyong anak anak kita menginap dirumah neneknya.


Terimakasih telah membuat saia berandai andai seindah ini -mataharijamtujuhpagi-

Kamis, 15 Juli 2010

Culik Saia ke Jogjakarta, Tuhan

Ini Jakarta dan saia tersesat di antaranya.
Idealisme bodoh yang mengkotak tiap tiap individunya.
Cuma bisa berpikir: saya yang di depan. Maka maaf kamu saya jatuhkan.

Saia juga bukan orang baik Tuhan,
karena saia masih sering berkata dengan suara lantang: saia orang baik kok, buktinya saia sabar.

Saia yang tersesat di Jakarta atau Jakarta yang menyesatkan saia?

Culik saia ke Jogjakarta, Tuhan.
Dan besok akan saia tebarkan potret manis masyarakat Jawa di Jakarta.

Setidaknya mereka hidup untuk memapah sesama. Bukan saling menebar risau.

Sabtu, 26 Juni 2010

Andai Mengumpat Itu Tidak Dosa

Hari ini saia ingin mengumpat sejadi jadinya.
Tentang kemarin, tentang "pesta selamat datang", tentang Anda yang tak kunjung datang.

Kalau bisa, saia ingin mengumpat tepat di atas wajah Anda.
Biar Anda tau betapa murka saia kemarin.
Saia ingin membuat telinga Anda panas.
Membuat hati Anda lemas.

Saia ingin memaki Anda sampai saia berdiri jinjit menuju wajah Anda!
Sampai urat di leher saia keluar!
Sampai saliva dari mulut saia mebanjiri Anda!

SAMPAI ANDA MUAK!!!


sampai Anda menampar saia.

sampai...

sampai...

sampai...

sampai...

Malaikat geleng geleng kepala.

Meminta pertanggungjawaban atas jilbab yang saia kenakan.

-kenapa jilbab itu masih belum bisa membendung saia-



Tapi saia tidak ingin membuat Malaikat geleng geleng kepala.




Dan saia ingin berusaha untuk tidak mengumpati Anda lebih lama.


Astaghfirullahaladzim...

Rabu, 16 Juni 2010

Mataharijamtujuhpagi di Sore Tadi

Alhamdulillah...

sudah tiga bulan ini hari hari saia ditemani Mataharijamtujuhpagi.
saia susuri tiap tiap temaramnya.
dan mencuri tiap tiap senyumannya.

saia resah, kapan hilang gundah.
mereka reka apa besok masih gundah.

semua sabar terjawab sudah.

saia sudah tidak resah.

terimakasih atas semua.
[dan maaf telah mencuri senyumanmu diam diam]

Sabtu, 05 Juni 2010

Putih Berarti Ruang

-Bukan, saya bukan desainer grafis seperti Wahyu Ong. Atau perupa seperti Hanafi-
-Bukan, tapi ingin [paling tidak] menyamainya-


Saya tau putih itu kosong.
Saya tau putih itu sepi.
Tapi itu ruang.

Putih membebaskan saya untuk menempatkan apapun
sesuai dengan apa yang ingin saya letakkan di sana.
Putih menampilkan rupa cahaya,
bahkan rupa gelap.

Putih memberi saya kesempatan lebih luas untuk merasa.
Putih memberi saya kesempatan lebih luas untuk mencerna.

Saya putih.
Saya ruang.
Saya kosong.
Saya ruang putih yang kosong.

Selasa, 01 Juni 2010

Senin, 31 Mei 2010

Akses pulang terdekat di blokir, Bung!

Woooosssshhhhaaaaaaaahhh.....!

Saya pulang jam 4 sore dari kantor, tapi hangout dulu mumpung baru gajian [baca: beli perlengkapan bayi untuk sepupu baru *ngok!]

Sampai lah jam 19.45 di ST. UI, mengingat ada yang harus saia transfer, saya ke ATM Mandiri terdekat. Clingak clinguk, endus endus, sepertinya kehadiran bis kuning masih lama. Saya putuskan jalan sedikit ke arah Fakultas Psikologi. Nyebrang: wussssss... Bis kuning melintas! panik! takut itu adalah bis kuning terakhir *atau saya harus menunggu 3 tahun lagi.

-Kok sepi? kok gak ada lagi mobil yang melintas?-

Masuk area ATM: ngantri. Mungkin ada sekitar 135 juta orang, antreannya panjang sampai simpang Gadog. Sementara menunggu saya putuskan untuk ikut tes CPNS.

Dag.. dig.. dug.. tanda tak sabar menunggu antrean yang tinggal 2 orang lagi.
Satu orang keluar dari pintu sebelah kanan.. pintu ditariiiiik... kemudian dilepas! Dug! Terpental lha orang yang ngantri di balik pintu. Untung bukan saya, korbannya desainer amatiran yang berat badannya pas pasan, jidat saya jadi tumbal -.-'. Terombang ambing mengikuti arah gerak pintu.

Transfer berhasil! Alhamdulillah.

Petantang petenteng ke arah halte.

"De, tolong jemput gua di Psikologi aja."
"Duh gua udah di Teknik kak, kagak bisa masuk. Jalan diblokir semua!"

clingak clinguk, hening. JALAN DIBOLKIR DARITADI DAN SAYA TIDAK SADAR!!!! PANTAS SAJA SEPI SEKALI!!

Wussssss.... Bis kuning lewat dari arah stasiun ke arah fakultas hukum. terengah engah mengejar tapi apa daya. Dia lebih cepat daripada masa jadian saia dengan Ryan Pradana ?*ngok!.

Balik lagi ke halte. Berharap ada Fedi Nuril [maksudnya tukang ojek] lewat.
tik. tok. tik. tok.

Fedi Nuril tak kunjung lewat.

Saya gamang. Saya Frustasi. Saya berpikir akan bermalam di halte psikologi sampai besok pagi. Saya harus makan malam dengan daun pohon karet. Tidur dengan kertas poster "Kosan murah daerah Kukel. RP 100.000/3 bulan. Kamar mandi di dalam. Kamar tidur di luar". Dan yang paling menyedihkan, saya tidak membawa TV untuk menonton Cinta Fitri! Sial!

Masih dalam keadaan gamang dan tak tentu arah. Pundak terasa berat sebelah *ternyata memang saia menyandang tas hanya di bahu sebelah kanan. Sang tukang ojek datang. Mata saya berbinar: saya pulang ibu! Saya pulang Shireeen Sungkar!

Saya terasa hidup kembali...
Terimakasih om tukang ojek yang motor supranya terasa senyaman Ducati saat saya naiki malam ini. Kelak jika saya menikah dengan Fedi Nuril, saya akan mencari rumah anda untuk mengantarkan undangan.


Sabtu, 29 Mei 2010

Kepada sang ikhlas hati

Wallahi saya bergidik ketika melihat sekumpulan relawan kemanusiaan dari berbagai dunia berkumpul dan membulatkan niat untuk membaktikan diri kepada masyarakat Palestina.
Perahu itu hanya 8 buah kawan! Kapal-kapal besar Israel bahkan sudah disiapkan untuk menghalau kedatangan mereka.
Tapi kekuatan niat mereka melebihi luas 8 benua!
Allah telah memilih orang orang ini untuk menjadi pahlawan.

Saya memang tidak tau banyak tentang Palestin, tentang Israel, tentang kejahatan perang, tentang perebutan wilayah.

Yang saya tau saudara saudara saya butuh bantuan.
Dan relawan relawan itu menangkap sinyal jeritan mereka dengan sangat baik.

Seorang relawan berkata sambil tersenyum: Insya Allah semuanya sudah beres. Saya sudah membuat wasiat kalau kalau sesuatu terjadi pada saya nanti. Kelak tidak ada yang perlu diributkan. Insya Allah.

*Mbak! Mbak sudah di laut Syprus. Dan Mbak masih bisa tersenyum ikhlas. Subhanallah.

Saya hanya baru bisa mendoakan: kalian para relawan dan saudara saudara saya di Palestin.
Percaya lah Allah tidak pernah meninggalkan kita sendiri.
Semoga Allah menjaga kalian dan menjaga ke ikhlasan hati kalian.
Semoga Allah melindungi tiap tiap langkah kalian.

Kepada sang ikhlas hati, bawa kabar gembira untuk kami di rumah.

Antara Depok dan Pulau Tidung

Pak, pulau kita yang mana?
Pasti itu yang saya teriakkan setiap kali perahu kecil yang saya tumpangi bersama Bapak mendekat ke pulau pulau kecil di bagian utara Jakarta.

Masih satu jam lagi baru kelihatan. Itu masih pulau Pramuka.

Saya selalu bergairah setiap kali Bapak mengajak saya pulang ke pulau Tidung.
Saya selalu terbayang, nanti malam makan ikan bakar buatan Mbah.
Nanti malam makan kepiting rebus hasil tangkapan Mbah.
Ya, Mbah saya nelayan laut lepas.

Beliau sangat jarang pulang ke pulau tidung.
Setahun sekali mungkin.
Dan Bapak tidak pernah sudi melewatkan momen libur Idul Fitri tanpa pulang ke Pulau Tidung.

Pulang saat lebaran berarti berkumpul sempurna dengan semua keluarga.
Keluarga Bapak yang kebanyakan nelayan lepas.
Yang kebanyakan berada di perbatasan negara.
Yang kebanyakan hanya punya waktu sesekali untuk pulang.

Besok paginya saya pasti dibonceng Mbah ke arah selatan pulau dengan sepeda ontel tua miliknya.
Mbah lantas memanjat pohon kelapa dipinggir pantai dan mengupasnya untuk saya.

Ndu, pohon kelapa ini kuat. Dia diempas angin tapi masih bisa berdiri tegak.
Ndu, pohon ini bisa hidup dimana saja.
Ndu, kelak kau harus sekuat ini.

Kata Mbah pada saya.
Itu terus yang Beliau katakan sampai saia hapal.

Saya terlepas Mbah, saya belum bisa setegar batang pohon kelapa.
Saya masih nyiurnya Mbah.

Mbah bicara soal tegar setelah itu Mbah pergi.
Mbah bicara soal kokoh setelah itu Mbah pergi.
Mbah bicara soal kuat setelah itu Mbah pergi.

Saya masih mau menebak pulau Mbah.
Saya belum hapal Pulau kita, pulau yang keberapa setelah Pulau Pramuka.
Saya masih mau menghapal ejawantah Mbah.
Sepeda Mbah belum sempat saya beri oli, Mbah.
Mbah kadung pergi.

Saya terlepas Mbah,,
Mbah belum sempat melihat saya dewasa.

*Mbah, ceritakan saya tentang pohon kelapa di surga.

Kamis, 27 Mei 2010

Buku VS Selera Pasar

Setelah cukup lama kenalan dengan dunia percetakan dan perbukuan, saya seperti menyadari *atau mengambil kesimpulan sendiri, ada yang salah dengan paradigma perbukuan.
Saya pikir, manusia akan memerlukan buku [dalam hal ni, buku dapat dikategorikan sebagai kebutuhan]. Tapi makin kesini, sepertinya buku yang susah payah mencari pembaca.

Teringat saat beberapa waktu lalu, cukup lama juga, saya freelance di salah satu penerbit buku sebagai desainer grafis. Di kampus saya ditelpon oleh yang empunya penerbitan:
Mbak Poetry, penulisnya sudah memilih salah satu thumbnail dari desain kamu. Bisa tolong dieksekusi lebih dalam lagi? Terus saya mau visualnya diganti. Itu visualnya kurang gimana gitu. [maaf saya tidak bisa menyebutkan judul bukunya]

Saya pikir semua visual merupakan sebuah simbolisasi. Tidak harus kan novel percintaan mencantumkan gambar hati di dalamnya. Atau paling tidak, gambar hatinya tidak perlu berwarna merah kan?

Tapi yang empunya penerbitan ngotot untuk mengganti visual yang telah saya buat dengan visual yang ada dalam benaknya *meskipun saya tidak tau benar apa yang ada dalam benaknya.
Dia bilang: pasar suka visual yang seperti ini, mereka akan tertarik dengan gambar gambar seperti ini.

Sadar atau tidak sadar, isi buku dan segala macam penyertanya "harus mengikuti selera pasar".
Buku jadi harus bekerja keras mencari cari pembaca. Pembaca suka warna pink, maka buku itu harus berwarna pink.

Secara kontinyu, selera pasar *baik dari segi materi atau selera visual, diam ditempat.
Saya salut dengan penerbit penerbit yang mau melangkahi rule itu dan menciptakan selera pasar sendiri. Saya tau itu gambling: dan mereka berhasil!

Paling tidak mereka menciptakan sejarah, mengedukasi selera masyarakat, dan tidak diperbudak oleh pasar.