Sabtu, 09 Oktober 2010
Saia Juga Melankolis [!]
Atas kejadian baru baru ini yang menimpa saia
Kisah asmara picisan yang sebenarnya malas untuk saia bahas
Tidak berkelas
Tapi tiap tiap orang punya sisi melankolis kan?
Saia juga!
"makanya jadi orang jangan egois Et"
"lo sih, gengsi banget!"
"alah, kebanyakan teori lo."
"pikirin aja omongan orang terus, sampe lupa lo juga punya hati."
"wonderwomen juga punya rok Et!"
Sumpah saia kesal!
Bukan dengan mereka
Tapi dengan diri saia sendiri
Benar kata orang orang itu tentang saia
Tidak ada yang mau saia sanggah
Saia terima
Memang benar itu saia
Semua orang menyalahkan saia
Saia juga mau memberi kesempatan
Untuk saia menyalahkan diri saia sendiri
Agar tidak cuma mereka yang tau saia salah
Saia juga ingin menyadari: kalau saia memang salah,
BS
Jumat, 24 September 2010
Saia Tidak Menulis Hari Ini
Lidah saia kaku
Tangan saia beku
Saia tidak menulis hari ini
Saia mau melukis
Saia lihat dari jauh
Wajahmu menyembul dari balik kabikel
Tempat kau berkutat dengan pemikiranmu sendiri
Ya! Itu wajahmu! Saia yakin itu!
Meskipun jutaan jam tidak bertemu
Saia yakin itu wajahmu
Tapi saia tidak bisa menerka
siapa yang telah menggunakan wajahmu
Dan duduk di kursimu
Saia mau melukismu
Tapi tolong kembalikan dulu ragamu
Saat lewat dekat mejamu
Saia tidak mencium wangimu
Saia hanya melihat tangan tangan
Ingin melempari saia dengan sumpah serapah
Sebegitu salah kah saia
Sampai saia tidak mampu lagi mengenalimu
Lidah saia kaku
Tangan saia beku
Saia tidak menulis hari ini
Saia juga tidak mampu melukis: kamu
Wadah Rasa yang Durjana!
Seperti tinggal di bumi bagian mana saja
Hangat yang mampir ke jari sudah jarang saia rasa
Apalagi menjelang sore hari
Saia dan pemikiran saia [lagi lagi begitu!]
Tidak bisa membuat tungku dalam hati saia
Saia biarkan saja begitu
Dingin dan masam Saia sampai malas menengoknya
Orang bilang, rasa terfermentasi pada hati
Diolah berbagai rupa
Sampai benang jadi kain
Sampai kain kau bakar
Hujan bagi sebagian orang: dingin
Bagi saia: ramai
Terserah
Kenapa saia selalu berpikir beda dari orang kebanyakan?
Apa karena wadah rasa saia tidak terbuat dari kapas?
Saia mau merasakan hujan sebagai dingin
Seperti kebanyakan orang yang menafsirkannya begitu
Tapi saia bilang: kebanyakan orang berpikir begitu.
Lalu kemana yang sedikit lagi?
Apa wadah rasa mereka juga tidak terbuat dari kapas?
Tapi dari tembaga.
Keras
Lugas
Bernas
Tidak waras
Waras
Tidak
Waras
Tidak
Waras
Kamis, 16 September 2010
Saia Membuka Masker Hidung Saia
Sore itu hujan, dan Anda belum kembali dari sana.
Saia punya banyak waktu luang untuk menunggu hujan reda,
Di sofa keunguan di ruang tamu kantor.
*jika Anda sudah kembali, saia pasti memilih menerabas hujan lalu kuyub
ketimbang duduk di sana, di belakang meja kerja Anda. Risih [dengan pemikiran yang tak keruan]
Saia jilati juga gerimis kecil yang mampir ke ujung bibir
yang gemetar menahan tamparan angin jelang maghrib di jalan raya Bogor.
Saia di atas motor, melaju di pinggiran jalan raya
mempersilahkan kendaraan lain mendahului laju sepeda motor saia.
Saia ingin berlama lama di atas motor.
Tempat saia bisa luang berbicara pada diri saia sendiri.
Toh saia sekarang memakai masker
Meracau pun tidak ada yang tau
Tidak ada yang mengganggap saia gila: Berbicara sendiri.
*kenapa berbicara sendiri dianggap gila, padahal hanya orang waras yang bisa merefleksikan diri!
[sesekali saia bersenandung: Why Don't We, Sandy Sandhoro.]
Saia pengap! Masker saia mengurung udara keluar masuk dari hidung saia.
Berkutat di situ situ saja.
Mengembun pada lensa kacamata saia.
Saia melepas masker hidung saia.
Saia senang menghirup timbal dari bus kota di depan saia.
Pengap yang berbeda, diselingi hawa dingin bekas hujan.
Timbal tidak membuat saia sesak.
Pemikiran tentang Anda yang membuat saia pengap!
Saia bebas tanpa masker.
Saia bisa bernafas.
Saia bisa menentukan mau sesak atau tidak.
Tapi saia tidak bisa berbicara!
Atau orang akan menganggap saia gila!
[ternyata saia bebas dalam ketertutupan]
Jumat, 10 September 2010
The Special One: La Razsati
Rumah saia penuh sesak berjubel anak, menantu, dan cucu Mbah Putri.
Saia memang tinggal bersama Mbah.
Sama seperti tahun tahun lalu.
Tapi ada satu yang membuat lebaran tahun ini terasa lebih spesial dari tahun tahun lalu.
:: La Razsati
Anak ini lucu,, wajahnya kecinaan.
Berbeda dengan anggota keluarga Mbah Putri yang lain: India atau Arab.
Mungkin ikut wajah ayahnya.
Ya, ayahnya masih orang Jawa, Surabaya.
Tapi memang agak oriental.
Anak ini jadi anugrah tersendiri buat keluarga besar kami.
Betapa tidak, Laras adalah anak pertama dari cucu Mbah Putri yang paling tua.
Laras Cicit Mbah, Mbah Uyut Laras.
Terlihat Mbah memandangi Laras bersembunyi di balik punggung ibunya ketika kami: tante dan omnya menggoda dia.
[Saia rasa Mbah ingin, tapi sudah tidak kuat menggendong Laras]
Mungkin kalau boleh dan kalau benar, saia jabarkan
Mbah sangat bersyukur masih bisa melihat cicitnya.
Tidak semua orang bisa berkesempatan melihat cicit mereka seperti Mbah.
Mbah pasti sangat bersyukur, dan berterimakasih atas kesempatan yang diberikan Tuhan saat ini.
Tapi saia tidak kalah bersyukur pada Tuhan [dan pada La Razsati] karena telah memberi kesempatan pada saia untuk menikmati senyum Mbah yang megah Lebaran ini.
Dalam hati saia berdoa:
Mbah, temani saia Lebaran tahun depan.
Doakan saia bisa mempersembahkan sesuatu yang bisa membuat senyum Mbah mengembang seindah ini lagi.
Atau paling tidak, biarkan saia melihat senyum Mbah lagi saat La Razsati sudah bisa naik sepeda sendiri.
Terimakasih Tuhan, Terimakasih Mbah, Terimakasih La Razsati
Selasa, 07 September 2010
Nyuwun Ngapura Kanjeng Ibu, Kanjeng Romo, lan Panjenengan.
Senin, 06 September 2010
Seminggu Ini Untuk Anda, Be Es!
Seperti "merayakan" hilangnya kita berdua.
Tiap hari saia tulis nama Anda di coretan gamang pada blog saia.
[Jangan lagi merayakan, menatap saja saia masih belum berani]
Be Es! Anda menguasi blog saia minggu ini!
Ingat Be Es, tidak untuk minggu depan!
Saia tau muntahan kegamangan ini masih larut dalam Anda.
Masih belum terlepas dari remah remah wangi Anda.
Tapi saia tidak mau menunggu lama Be Es!
Hidup saia harus terus berjalan.
Saia mau mengganti kopi pahit saia yang sudah basi.
Yang saia letakkan disudut kamar.
Tapi tidak akan saia buang Be Es.
Kopi itu hanya basi, belum membusuk.
Hanya akan saia pindahkan ke dekat sarang tikus.
Agar mereka tau saia gamang waktu itu.
Hari ini masih hujan Be Es.
Tapi Anda nekat pergi.
Saia diam sambil menyeduh kopi.
*Dalam gelas yang sama, gelas kopi basi yang nodanya masih samar.
Belum Lagi Hilang Lebamku: Be Es
Bulan ini musim hujan.
Saia bisa bilang begitu karena belakangan, sering hujan.
Sesekali kita menghabiskan waktu bersama.
Bersama hujan yang menitik di ujung jari jari kita: di tepi jalan raya.
Be Es, saia rindu menghabiskan waktu bersama Anda
hanya untuk menceritakan masa kecil kita yang berbeda satu sama lain.
Saia tinggal di kota, Be Es.
Tak kenal tutut yang Anda ceritakan telah Anda bakar dan nikmati bersama teman teman Anda selepas bermain hujan di tengah sawah.
Anda ribuan kilometer dari tempat saia menghabiskan waktu duduk dikamar dan beradu pikir pada video game yang dibelikan Bapak saat kenaikan kelas.
Anda bercerita, pikiran Anda menerawang ke masa kanak kanak Anda dulu.
Anda bercerita, pikiran saia menerawang ke masa depan tentang apakah kita masih akan bercerita seakrab ini nanti.
Kita bercerita, dengan gigi gemeretak menahan dingin hujan diluar jendela ruang tamu rumahku.
Seperti dua orang renta yang sedang bertukar cerita.
Saia suguhkan secangkir kopi panas dan kita semakin liar bercerita.
Lebam ini belum hilang Be Es.
Semenjak saia putuskan untuk membencimu sampai ke sumsum tulang.
[semenjak kita berdua memutuskan untuk hilang]
Tapi gemeretak gigi kita, dan hujan yang membasahi jari jari kita waktu hujan sore itu mengibaskan semuanya.
Saia tidak mampu menipu hati saia.
Saia masih mau mendengar cerita Anda
Padahal lebam ini belum lagi hilang.
Seperti saia siap saja menerima lebam selanjutnya.
Be Es... Be Es...
Anda benar benar membuat saia gila,
Gila untuk bercerita!
Jumat, 03 September 2010
Kelangit Bersama Ikan Asin*
Tidak manis,, tapi cukup segar.
Sore ini kopi pahit.
Saia tau ini pahit.
Tapi tetap saia minum.
Saia seruput pelan dan dalam.
Mata saia menangkap tembok membentuk relief.
Cerita tentang Pariyem dan Den Bagus Ario Atmojo.
Kisah cinta beda kasta yang pernah saia baca pada buku usang di sudut kamar.
Angan saia melesat ke Suryomentaraman Ngayogyakarta.
Pariyem itu babu, Ario Atmojo, sudah jelas... Den Bagus.
Kalau mereka saling jatuh cinta, salah siapa?
Salah Ario yang dibutakan cinta?
Atau Pariyem yang tidak mengenal tingkatan kasta?
[salah saia: kenapa memikirkan siapa yang salah!]
Kopi saia mulai dingin.
Tapi tembok masih berpendar.
Mengurai cerita lain.
Sekelompok ikan asin melarikan diri dari kantung kresek hitam kumal.
Masing masing mereka membawa tali.
Ah.. ikan ikan bodoh. Kataku.
Bukankah hidup mereka akan lebih berarti jika mereka tetap dikantung.
Menanti nasi panas menyertakan mereka turun ke pangkal tenggorokan.
Ah dasar ikan keras kepala!. Kataku lagi.
Mereka malah memboyongku ikut dengan mereka.
Mereka berjajar membentuk anak tangga.
Tali yang mereka bawa, mereka pakai untuk mengait pelangi.
Saia terdesak! Terbawa ke atas.
Ikan ikan asin itu mengajak saia terbang.
Saia tidak percaya! Mereka cuma serupa kecil.
Saia kelangit.
Bersama ikan asin!
*Judul postingan ini diambil dari salah satu judul landscape pada Katalog Rupa: Dive Into, milik perupa Hanafi.
Kamis, 02 September 2010
Perang Batin
Bukan sakit demam.
Bukan sakit kepala.
Bukan sakit hati juga.
Perang dalam batin saia mengakumulasi.
Menyebabkan saia sakit: mati rasa.
Saia geram tapi tidak ingin marah.
Saia kesal tapi memilih diam.
Saia senang tapi tidak terlalu yakin.
Tapi Antiklimaks.
Saia keluar dari zona aman tapi malah terperangkap dalam tempat baru yang asing.
Satu tempat di hati saia yang belum pernah saia kunjungi sebelumnya.
Tempat hati saia mati rasa.
mati
tanpa rasa
berasa
tapi mati
rasanya mati
saia sakit: Be Es
saia tidak masuk kerja hari ini
Be Es, Saia Cemburu
Selama ini saia cuma punya satu alasan untuk cemburu.
Saia cemburu pada Bapak, yang punya istri sebaik dan secantik Ibu.
Tapi hari ini saia cemburu.
Saia mencemburui Anda: Be Es.
Saia cemburu pada Anda atas wanita yang menyesalkan kepergian Anda ke Luar Kota tanpa pamit padanya.
Wanita itu berkata [saia rasa dengan nada manja], "Ih... Kok ke Cianjur gak bilang bilang???"
Sedangkan saia hanya bisa bicara [tanpa nada, saia rasa] "Hati hati di jalan."
*saia kurang bisa merengek, jadi maaf.
Saia juga iri pada Anda.
Anda bisa tenang menghadapi saia, yang bahkan, saia kewalahan menanggapi sikap saia sendiri.
Saia rikuh sendiri. Kikuk.
Bahkan saat wanita itu tadi mampir ke ruangan kita. Ehm.. Ruangan Anda, maksud saia.
Saia berusaha untuk tidak peduli [hanya untuk menyelamatkan kegalauan hati saia].
Tapi tetap saja saia tau dia ada di ruangan kita. Ehm.. Ruangan Anda, maksud saia.
Saia iri pada monitor Mac Anda, yang Anda pandangi setiap hari.
Saia iri pada headset Anda yang tiap hari meracau tapi Anda dengarkan.
Saia iri pada tiket mudik Anda yang Anda jaga dengan seksama.
Saia iri pada tas ransel Anda yang tiap hari melingkupi Anda
Bahkan saia iri pada dispenser di sebelah meja kerja Anda!
yang bisa mengintip Anda bekerja setiap hari.
Saia cemburu pada Anda Be Es.
Pada tiap tiap pemikiran Anda yang sederhana.
Saia tidak ingin berpikir terlalu kompleks tentang Anda.
Tapi Anda labirin: memaksa saia berpikir lebih dalam.
Besok akan saia buatkan Anda puding cokelat.
Agar dispenser di sebelah Anda iri: hanya bisa mengintip dari balik meja kerja Anda.
Rabu, 01 September 2010
Jangan Hakimi Otak Saia: Be Es
Jangan terlalu berlebihan menanggapi ini semua.
Aku tidak apa apa."
Tiap hari saia dijejali kalimat kalimat mengambang seperti itu.
Tidak ada masalah dengan saia, tapi saia merasa terintimidasi.
Otak saia, Anda hakimi!
Sarang laba laba menebal di tepi tepinya
Pertanda saia tak mampu lagi menganalisa sikap Anda.
Saia ingin menyerah saja.
Tapi saia kadung sombong, sesumbar pada Anda kalau saia wanita hebat.
Sudah saia bilang kalau saia bukan paranormal,
Bisa membaca pikiran orang.
Tinggal bilang salah saia apa.
Tinggal minta, Anda maunya saia gimana.
Ingin menambahkan satu sarang lagi di otak saia???
Sabtu, 21 Agustus 2010
Meranggas Karena Keadaan
Jauh sebelum saia menyadari hal ini akan terjadi.
Anda bilang ini konsekuensi yang harus kita tanggung.
Pernah juga sekali waktu Anda bertanya pada saia:
Apa kamu siap dengan keadaan ini?
Apa kamu siap menutup telingamu atas pembicaraan orang orang di sekeliling yang tertuju pada kita?
Saia balik bertanya:
Apa kamu juga siap?
Aku sudah biasa dengan situasi di sini.
Aku sudah cukup mengenal keadaan.
Aku justru mengkhawatirkan kamu, yang baru masuk dalam lingkungan ini.
:: Kata Anda.
Kalimat Anda secara tidak langsung memaksa saia untuk berdaptasi,
membiasakan diri dengan keadaan.
Saia rasa saia berhasil!
Semua yang dipertanyakan orang orang tentang kita saia masukkan ke kuping kanan, tak lama saia keluarkan lewat kuping kanan juga [bahkan satu kata pun tak sempat menyentuh gendang telinga saia!]
Saia bingung kenapa sekarang jadi Anda yang rapuh?
Padahal dulu Anda yang bilang siap dengan apa saja yang bakal terjadi.
Jangan paksa saia berpikir macam macam tentang ini semua.
Mari kembali tertawa,,
Saia tidak mau Anda lemah.
Itu kan yang tiap hari Anda jejalkan ke kepala saia?!
Apa kabar Gundalaku [?]
Maaf, bukan hari ini saja, tapi sejak kemarin.
Saia tidak tau apa penyebabnya.
Bukan saia tidak mau tau, tapi saia takut Anda tidak mau memberi tau.
Saia biarkan nanti tau tau, saia tau sendiri.
Maaf Gundalaku...
Saia tau Anda risih.
Saia juga mengalaminya.
Tapi saia belum mendapatkan jalan keluar untuk keadaan ini.
Saia bukan meragukan Anda: Gundalaku.
Tapi saia butuh banyak waktu untuk mencerna semua satu persatu.
Maaf Gundalaku...
Saia asing dengan perubahan Anda.
Saia ingin biasa saja, seperti kemarin lusa:
Menikmati senyum Anda dari kejauhan
dan menyimpannya di dalam ransel saia
sebagai teman minum kopi sepulang saia bekerja
Jangan lagi gundah, Gundalaku
Minggu, 18 Juli 2010
Surat untuk Mataharijamtujuhpagi
kepada: Mataharijamtujuhpagi
dengan hormat,
surat ini mungkin sangat mengejutkan, karena ditulis oleh saia dan ditujukan untuk anda. semoga anda tidak sampai hati untuk membuang surat ini ke selokan di jalan raya atau hanya menyimpannya di laci meja kerja anda.
tadi saia melihat Anda, kemarin juga, saia berharap besok juga masih bisa. ah! saia tidak pandai berbasa basi. saia ingin segera memuntahkan apa yang selama ini menjejal di kepala [juga di tenggorokan saia].
saia tau ini tidak biasa, apalagi bagi saia [mungkin juga bagi anda]. baik, saia akan mulai sekarang. saia berantakan. saia tidak bisa mengatur napas saia setiap kali anda lewat di depan meja kerja saia. saia bingung. saia linglung. bukan karena saia jatuh cinta pada anda [atau mungkin belum]. ternyata saia kagum dan menaruh hormat pada anda.
justru karena karena rasa hormat saia pada anda saia jadi makin bingung. mau diapakan perasaan saia.
bagi saia diam adalah jawaban sementara atas pertanyaan pertanyaan yang selama ini berdesakan dari alam bawah sadar saia tentang apa yang sebenarnya sedang saia derita. tapi kelamaan, diam malah jadi bumerang buat saia. saia semakin linglung.
saia tau setelah mambaca tulisan ini [dan mungkin juga berusaha mencernanya], anda jadi ikut bingung. saia tau anda langsung ingin membuang tulisan ini sejadi jadinya dari pada anda semakin linglung.
saia tau anda juga ingin berkata: “rasanya tidak pantas seorang wanita menulis ini”
saia hanya ingin bicara. karena diam menyiksa saia.
saia harap, besok pukul delapan, keadaan kembali seperti semula. saia harus mengerjakan cover yang deadline seminggu ke depan.
[surat ini tidak pernah dikirimkan]
Jumat, 16 Juli 2010
. d . r . e . a . m . i . n . g . o . f . . . .
kelak setiap tengah malam bisa bertahajud bersamamu.
bisa setiap subuh jadi makmummu.
tiap pagi saia bangunkan kamu dengan secangkir kopi.
pahit.
seperti permintaanmu.
dan pisang goreng *jika aku tidak sempat membuat nasi goreng.
sebelum berangkat kerja, aku sempatkan merapikan kerah kemeja coklatmu.
iya, kita tidak berangkat bersama.
kita beda kantor.
aku masih dikantor kita yang dulu.
tiap tengah hari kau menelpon.
menanyakan kabar anak2 kita: Fikri dan Khumairah.
sebelumnya aku sudah lebih dahulu menelpon ke rumah.
anak2 kita sedang bermain lego.
kemudian sore harinya kamu menjemput aku dikantorku.
dijalan, kamu bercerita tentang job desain yang menumpuk.
aku cuma bercerita, sepanjang siang tadi mati lampu.
tiap kita pulang, anak anak bersorak.
mereka sudah mengenakan sarung dan mukena.
tak sabar shalat maghrib dengan kita.
*sesekali kita memboyong anak anak kita menginap dirumah neneknya.
Terimakasih telah membuat saia berandai andai seindah ini -mataharijamtujuhpagi-
Kamis, 15 Juli 2010
Culik Saia ke Jogjakarta, Tuhan
Idealisme bodoh yang mengkotak tiap tiap individunya.
Cuma bisa berpikir: saya yang di depan. Maka maaf kamu saya jatuhkan.
Saia juga bukan orang baik Tuhan,
karena saia masih sering berkata dengan suara lantang: saia orang baik kok, buktinya saia sabar.
Saia yang tersesat di Jakarta atau Jakarta yang menyesatkan saia?
Culik saia ke Jogjakarta, Tuhan.
Dan besok akan saia tebarkan potret manis masyarakat Jawa di Jakarta.
Setidaknya mereka hidup untuk memapah sesama. Bukan saling menebar risau.
Sabtu, 26 Juni 2010
Andai Mengumpat Itu Tidak Dosa
Tentang kemarin, tentang "pesta selamat datang", tentang Anda yang tak kunjung datang.
Kalau bisa, saia ingin mengumpat tepat di atas wajah Anda.
Biar Anda tau betapa murka saia kemarin.
Saia ingin membuat telinga Anda panas.
Membuat hati Anda lemas.
Saia ingin memaki Anda sampai saia berdiri jinjit menuju wajah Anda!
Sampai urat di leher saia keluar!
Sampai saliva dari mulut saia mebanjiri Anda!
SAMPAI ANDA MUAK!!!
sampai Anda menampar saia.
sampai...
sampai...
sampai...
sampai...
Malaikat geleng geleng kepala.
Meminta pertanggungjawaban atas jilbab yang saia kenakan.
-kenapa jilbab itu masih belum bisa membendung saia-
Tapi saia tidak ingin membuat Malaikat geleng geleng kepala.
Dan saia ingin berusaha untuk tidak mengumpati Anda lebih lama.
Astaghfirullahaladzim...
Rabu, 16 Juni 2010
Mataharijamtujuhpagi di Sore Tadi
sudah tiga bulan ini hari hari saia ditemani Mataharijamtujuhpagi.
saia susuri tiap tiap temaramnya.
dan mencuri tiap tiap senyumannya.
saia resah, kapan hilang gundah.
mereka reka apa besok masih gundah.
semua sabar terjawab sudah.
saia sudah tidak resah.
terimakasih atas semua.
[dan maaf telah mencuri senyumanmu diam diam]
Sabtu, 05 Juni 2010
Putih Berarti Ruang
-Bukan, tapi ingin [paling tidak] menyamainya-
Saya tau putih itu kosong.
Saya tau putih itu sepi.
Tapi itu ruang.
Putih membebaskan saya untuk menempatkan apapun
sesuai dengan apa yang ingin saya letakkan di sana.
Putih menampilkan rupa cahaya,
bahkan rupa gelap.
Putih memberi saya kesempatan lebih luas untuk merasa.
Putih memberi saya kesempatan lebih luas untuk mencerna.
Saya putih.
Saya ruang.
Saya kosong.
Saya ruang putih yang kosong.
